KLIKJATIM.Com | Sampang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang mencatat sedikitnya 76 desa di 12 kecamatan masuk kategori wilayah kering kritis.
Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 1.000 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 3.000 jiwa yang membutuhkan pasokan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sampang, Fajar Arif Taufikurrahman, mengatakan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah terdampak masih cukup tinggi.
"Yang masuk kategori wilayah kering kritis ada 12 kecamatan, dengan 76 desa. Kalau KK-nya kurang lebih sekitar 1.000 kepala keluarga, sedangkan jumlah jiwanya sekitar 3.000," kata Fajar, Selasa (8/9/2026).
Menurut Fajar, BPBD saat ini mengalokasikan sekitar dua truk tangki air untuk setiap desa terdampak. Namun, jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal di lapangan.
"Per desa itu ada dua truk tangki air. Jumlah itu sangat kurang. Idealnya sekitar enam sampai tujuh tangki setiap desa," terangnya.
BPBD Kabupaten Sampang sudah mengajukan permohonan bantuan kepada BPBD Provinsi untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan.
"Kami sudah berkirim surat ke BPBD Provinsi untuk meminta bantuan dropping air bersih, tetapi sampai sekarang masih belum ada kabar," ucapnya.
Fajar menyebut keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu kendala dalam memenuhi kebutuhan distribusi air bersih. Untuk kegiatan tersebut, BPBD Kabupaten Sampang hanya memiliki anggaran sekitar Rp75 juta pada tahun 2026.
"Anggaran kita untuk tahun 2026 sekitar Rp75 juta. Karena itu, kami juga berkoordinasi dengan BPBD Provinsi untuk meminta bantuan anggaran untuk dropping air bersih," ungkap Fajar.
Ia menambahkan, kondisi kekeringan berpotensi semakin meluas apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. Bertambahnya wilayah terdampak juga akan membuat kebutuhan distribusi air bersih semakin besar.
"Apabila kemarau tetap berlanjut, wilayah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Sampang dipastikan akan bertambah," tegasnya.
Selain persoalan distribusi, BPBD juga menghadapi kendala lain, yakni semakin sulitnya menemukan titik sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Karena sekarang mencari titik sumber mata air sangat sulit," pungkas Fajar.
Editor : Ratno