KLIKJATIM.Com | Jakarta — Target pemerintah untuk mewujudkan swasembada bawang putih dalam tiga tahun dinilai membutuhkan strategi yang lebih terarah, mulai dari pemetaan sentra produksi, penyediaan benih berkualitas, pendampingan petani hingga jaminan pasar.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB Usman Husin menyatakan optimistis target yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto tersebut dapat diwujudkan. Namun, ia menekankan perlunya langkah konkret dan terukur serta sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, BUMN pangan dan pelaku usaha.
Baca juga: Gubernur Khofifah Sapa Ratusan Ojol Kota Malang, Bagikan Bendera Merah Putih dan Sembako
“Kami optimistis bahwa Indonesia akan mencapai swasembada bawang putih dalam tiga tahun mendatang. Bawang putih merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang kebutuhan dalam negerinya masih sangat besar. Kami berharap target yang ditetapkan Presiden Prabowo ini benar-benar dapat tercapai,” ujar Usman di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026), menargetkan Indonesia mampu mencapai swasembada bawang putih dalam tiga tahun.
Usman menilai target tersebut tidak bisa dicapai dengan menerapkan pola pengembangan yang sama di seluruh daerah. Bawang putih memiliki kebutuhan agroklimat tertentu sehingga pengembangan harus diarahkan ke wilayah yang memiliki kondisi tanah, ketinggian, suhu, curah hujan dan intensitas penyinaran yang sesuai.
“Bawang putih memiliki karakteristik yang berbeda dengan bawang merah. Tidak semua wilayah di Indonesia cocok untuk ditanami bawang putih. Karena itu, diperlukan penanganan khusus, mulai dari pemilihan lokasi, penggunaan benih, teknik budidaya, sampai dengan pengendalian hama dan penyakit,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah didorong melakukan pemetaan secara menyeluruh untuk menentukan daerah yang benar-benar potensial menjadi sentra bawang putih. Menurut Usman, pemetaan penting agar program tidak sekadar mengejar perluasan lahan, tetapi berfokus pada kawasan yang memiliki tingkat kesesuaian agroklimat dan produktivitas tinggi.
“Pemerintah harus turun langsung ke lapangan untuk mendeteksi lokasi-lokasi yang cocok. Setelah ditemukan kawasan yang potensial, harus ada pendampingan secara berkelanjutan agar petani tidak berjalan sendiri,” katanya.
Baca juga: Komisi B DPRD Jatim Evaluasi Program Bongkar Ratoon Usai Petani Tebu Lamongan Keluhkan Gagal Panen
Salah satu wilayah yang dinilai memiliki potensi adalah Kecamatan Kokbaun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Usman menyebut masyarakat setempat telah mengembangkan bawang putih secara turun-temurun karena kondisi wilayahnya mendukung komoditas tersebut.
Saat melakukan kunjungan ke Kokbaun, ia menemukan lahan bawang putih yang dikelola masyarakat mencapai hampir 10 hektare. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan intervensi pemerintah, terutama melalui penyediaan benih berkualitas untuk meningkatkan produktivitas.
“Wilayah Kecamatan Kokbaun di Kabupaten TTS memang potensial untuk pengembangan tanaman bawang putih. Petani membutuhkan bantuan benih yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Usman mengatakan, dirinya telah menyampaikan potensi tersebut kepada jajaran Kementerian Pertanian agar mendapat perhatian dan dukungan pemerintah.
Baca juga: Jelang Pelantikan, Kiai Irsyad Siapkan Dua Strategi Perkuat Mesin Politik PKB Sumenep
Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem bawang putih dari hulu hingga hilir. Selain benih dan teknologi budidaya, petani membutuhkan pendampingan, kepastian harga serta akses pasar agar peningkatan produksi dapat memberikan keuntungan yang berkelanjutan.
Menurut Usman, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk mengejar target swasembada dalam tiga tahun. Jika sentra produksi dipetakan secara tepat, didukung benih berkualitas, teknologi, pendampingan, kepastian pasar dan kebijakan yang konsisten, ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih dapat dikurangi secara bertahap.
“Yang dibutuhkan bukan hanya menambah luas tanam, tetapi membangun ekosistem produksi bawang putih dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, petani memiliki kepastian untuk meningkatkan produksi dan Indonesia bisa semakin dekat dengan swasembada,” pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar