KLIKJATIM.Com | Jember – Rentetan kasus pembuangan bayi yang kembali terjadi di Kabupaten Jember memicu keprihatinan mendalam dari jajaran legislatif. Anggota Komisi D DPRD Jember, Fatmawati, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat akan pentingnya penguatan pendidikan keluarga, kesiapan berumah tangga, serta pengawasan ketat terhadap pergaulan remaja di era derasnya arus informasi.
Sebagai seorang ibu, Fatmawati mengaku sangat miris mendengar kabar adanya bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Ia menyoroti ironi besar di mana di satu sisi ada bayi yang ditelantarkan, sementara di sisi lain banyak pasangan yang harus berjuang bertahun-tahun demi mendapatkan keturunan.
Baca juga: Pemkab Jember Rekom Penutupan Dua Dapur MBG ke BGN
“Saya sebagai seorang ibu merasa miris mendengar beritanya, karena dengan berbagai faktor dan alasan membuang bayinya, masih banyak calon ibu yang berjuang dengan segala macam cara demi menjadi seorang ibu. Bahkan ada yang penantiannya sampai 10 tahun, bahkan 20 tahun,” ujar Fatmawati saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Kamis (12/2/2026).
Legislator dari Partai NasDem ini menekankan bahwa persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai masalah individu semata. Ia melihat adanya akar masalah berupa ketidaksiapan mental, sosial, maupun ekonomi pasangan dalam membangun pondasi rumah tangga yang sehat.
“Dibutuhkan kesiapan dari pasangan saat akan membina rumah tangga maupun berkehidupan berpasangan. Tanggung jawab menjadi orang tua itu berat. Dari kejadian pembuangan bayi ini, menurut saya adanya ketidaksiapan pasangan untuk membina rumah tangga yang baik, maupun dalam mempersiapkan diri mendidik anak,” tegas perempuan yang akrab disapa Kak Fat tersebut.
Lebih lanjut, ia mengingatkan para generasi muda untuk lebih mawas diri dalam pergaulan sehari-hari. Menurutnya, perkembangan teknologi yang tidak dibarengi dengan filter karakter yang kuat dapat menjerumuskan anak-anak pada perilaku yang tidak bertanggung jawab.
“Terlebih selalu berhati-hati dalam pergaulan sehari-hari. Jangan sampai terjerumus ke hal-hal yang tidak benar dan baik. Arus teknologi dan informasi itu cepat. Jangan sampai anak-anak kita mendapat tontonan maupun informasi yang tidak benar,” tuturnya.
Sebagai langkah konkret, Komisi D DPRD Jember berencana segera melakukan koordinasi lintas sektoral. Rapat koordinasi ini nantinya akan melibatkan lembaga di bawah Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, hingga Dinas Kesehatan Kabupaten Jember untuk menyusun strategi pencegahan dan penanganan yang komprehensif.
“Nantinya dalam waktu dekat, dimungkinkan kami di Komisi D DPRD Jember akan berkoordinasi antar dinas atau lembaga tentang menguatkan pendidikan anak dan remaja, untuk lebih bijak dalam pergaulan. Jikapun ada yang ingin mengasuh atau menjadi orang tua angkat dari si bayi, harus sesuai prosedur yang benar,” jelas Fatmawati.
Baca juga: Nobar Film Pesta Babi Digelar di Kampus dan Perumahan Jember, Politis PDIP Ikut Nonton
Terkait kondisi bayi yang ditemukan di Jalan Arowana tersebut, Fatmawati memastikan pihaknya akan terus memantau perkembangan kesehatannya, mengingat bayi tersebut lahir dalam kondisi prematur. Ia berkomitmen untuk mengawal penanganan medis yang maksimal demi keselamatan sang bayi.
“Lebih lanjut akan kita pantau, dan nantinya kita akan koordinasi dengan dokter yang merawat dedek bayi itu, sejauh mana kondisi kesehatannya. Jikalau dibutuhkan penanganan lanjutan, tentu harus segera dilakukan demi keselamatan bayi. Beruntung bayi malang ini dalam kondisi hidup dan terpantau sehat. Tapi di berita-berita sebelumnya, banyak kasus bayi malah dibunuh dengan kejam. Kejadian ini jangan sampai terulang lagi,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kasus ini bermula dari penemuan bayi perempuan berbalut kain ungu dalam kardus makanan di teras rumah warga Kelurahan Kebon Agung pada Rabu dini hari. Di lokasi juga ditemukan surat wasiat berisi nama bayi tersebut, sementara pelaku yang terekam CCTV diduga merupakan pasangan pria dan wanita yang mengendarai sepeda motor matic.
Editor : Fatih