KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Lusi Widiarini tak pernah menyangka bahwa modalnya Rp100 ribu pada 2012 lalu, kini bisa berubah dengan omset hingga Rp1 miliar dalam satu tahun. Awalnya, dia mengaku hanya ingin membantu para petani janggelan atau cincau di tempat tinggalnya Desa Selur, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo.
Sebab pada saat merintis di tahun 2022, janggelan hanya dihargai Rp500 per kilogram. “Murah sekali memang. Karena bahan baku janggelan melimpah dan murah. tergerak mengolah biar menjadi bahan bernilai ekonomis,” ujar Lusi, Kamis (15/9/2022).
Baca juga: Sisihkan Uang Ngudek Kopi di Ponorogo, Wahyudi Akhirnya Berangkat Haji Tahun Ini
Janggelan tersebut tidak kemudian diperjualbelikan mentah-mentah. Lusi memilih mengolahnya menjadi minuman kemasan. Awalnya, Lusi yang bersama suaminya mengolah menjadi minuman kemasan dengan kemasan cup. Tetapi seiring berjalannya waktu, Lusi juga mengembangkan kemasan botol.
Dia pun tidak kesulitan mencari bahan baku. Dia tetap merangkul para petani janggelan di sekitar desanya. Bahkan, Lusi berani membeli dengan harga tinggi. Misalnya di pasaran janggelan atau cincau itu dijual Rp3 ribu per kilogram. Lusi memilih membelinya Rp5 ribu sampai Rp7 ribu.
“Membantu petani juga. Biar tidak kapok menanam janggelan. Saya juga mendapat bahan baku tidak kesulitan,” urainya.
Menurutnya, awalnya berdarah-darah. Karena merasa aneh dengan adanya minuman janggelan tetapi dikemas. Padahal biasanya hanya es cao saja jika di Ponorogo.
Omsetnya juga tidak langsung ratusan juta per bulan atau miliaran dalam per tahun. Dia hanya mendapatkan kurang lebih Rp1 juta per bulan omsetnya.
Baca juga: Pulang Ngaji, 2 Bocah Ponorogo Ditemukan Tak Bernyawa di Kubangan
Omset tersebut, kata dia, sedikit demi sedikit naik. Selain karena masyarakat sudah tahu. Juga dia tetap konsisten dalam menjaga kualitas
Dia mengklaim bahwa tidak menggunakan pemanis buatan sebagai jahan pembuatan produksinya. Dia menggunakan gula asli, tidak pewarna dan perisa.
Omset, kata dia, jika diakumulasikan per tahun sekitar Rp1 miliar. Pasalnya dalam satu bulan tidak pasti, yang paling ramai adalah saat Idul fitri permintaan untuk minuman cincaunya naik berkali-kali lipat.
Baca juga: Enam Rumah Warga Banaran Ponorogo Terdampak Longsor
Dalam sehari, Lusi mampu memproduksi 1.500 botol Janggelan kemasan 350 mililiter. Serta 18.500 cup isi 120 mililiter yang dikemas dalam satu kardus berisi 24 cup janggelan.
Menurut Lusi, selain menyegarkan, masyarakat Ponorogo menyukai Janggelan buatannya karena mengandung banyak khasiat bagi kesehatan. "Mulai dari membantu mengatasi sembelit, panas dalam, maag, hingga darah tinggi, serta mengandung vitamin E yang bagus untuk kulit," jelasnya.
Selain diolah menjadi minuman, saat ini Lusi telah mengembangkan Janggelan menjadi olahan lain. Salah satunya adalah camilan stik Janggelan. (nul)
Editor : Fauzy Ahmad