Tahun Ini Bisnis Asuransi Diperkirakan Mulai Bergerak

Reporter : Aries Wahyudianto - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Jakarta – Bisnis asuransi di Tanah Air setahun lalu benar-benar merasakan getah pahit dari imbas pandemi Covid-19. Untuk tahun ini,  Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memproyeksi bisnis asuransi jiwa masih akan lebih baik dibandingkan 2020 silam.

BACA JUGA :  Tetangga Ajak Gadis SMA Masuk Kamar, Kok Tahu Tahu Sudah Bunting

Industri asuransi optimisme itu lantaran kondisi pasar modal Indonesia yang terus membaik. Selain itu, pemerintah terus melangsungkan program pemulihan ekonomi nasional. Faktor selanjutnya ialah vaksinasi sudah berada di depan mata. Semua hal itu diprediksi bisa membuat perekonomian Indonesia lebih baik yang akhirnya ikut berdampak pada bisnis asuransi jiwa.

“Kita lihat kuartal keempat 2020 lebih baik, dan tahun 2021 akan lebih baik. Walau masih butuh waktu. Kami sangat optimis dan yakin dari tahun 2020. Tren asuransi kesehatan, akan meningkat, sesuai survei, kebutuhan asuransi di tengah pandemi semakin meningkat, karena orang butuh,” kata Ketua Bidang Marketing & Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono.

Sementara itu Wakil Ketua Dewan Pengurus AAJI Maryoso Sumaryono merinci kinerja bisnis industri, dimana pendapatan premi sepanjang 2020, kuartal I-2020 Rp 44,52 triliun, kuartal kedua sebanyak Rp 44,18 triliun, dan kuartal III Rp 45,29 triliun.

“Kita selalu tumbuh selain di tahun 2018, kemudian di 2019 naik lagi. Kita prediksi sampai akhir 2020 itu mencapai Rp 179,28 triliun atau negative growth 8,8%,” ujar Maryoso.

Sayangnya, AAJI tidak memproyeksi pertumbuhan pendapatan premi asuransi jiwa di 2021. Data AAJI mencatatkan pendapatan premi senilai Rp 133,99 triliun hingga September 2020. Nilai tersebut turun 7,9% yoy. Mengingat pendapatan premi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mencapai Rp 145,41 triliun.

Perlambatan itu terjadi saat premi bisnis baru melambat sebesar 11,5% dari Rp 90,51 triliun menjadi Rp 80,13 triliun. Sementara itu total premi lanjutan turun 1,9% dari Rp 54,91 triliun menjadi Rp 53,87 triliun. AAJI melihat secara kuartalan telah terjadi peningkatan pendapatan premi sebesar 2,5% menjadi Rp 45,29 triliun di kuartal III-2020. Mengingat di kuartal kedua tahun 2020 pendapatan premi hanya Rp 44,18 triliun.

Asosiasi menilai tahun 2021 bisnis bisa lebih baik seiring dengan adaptasi dan inovasi digital. Dia menyebut pandemi telah mempercepat implementasi digital. “Pandemi ini mempercepat perubahan perilaku masyarakat yang IT digital oriented. Dunia asuransi jiwa harus mengambil kesempatan ini dengan  memberikan layanan digital yang memberikan kemudahan dan setiap bisnis proses dan tetap mematuhi aturan yang berlaku,” tambahnya.

Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tahun 2021 ada risiko yang harus diwaspadai industri. Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2A OJK, Ahmad Nasrullah menyatakan ada potensi ledakan pengaduan pada penjualan produk secara virtual.

“Saya melihat karena masa pandemi ini kita buka penjualannya secara non face to face. Jadi bukan tidak mungkin kalau tidak proper saat penjualan maka akan ada ledakan pengaduan. Tolong dikomunikasikan dengan teman-teman anggota (asosiasi) untuk lebih proper,”  pungkasnya. (hen)