KLIKJATIM.Com | Surabaya - Ada dugaan praktek kecurangan dalam pemilu di Kota Surabaya. Demikian pesan yang tersirat dari pernyataan calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin (MA), Partisipasi pemilih di Surabaya sebenarnya tidak lebih dari 60 persen.
Tapi kenyatannya di akhir rekapitulasi KPU, pada pemilu 2019 misalnya meroket hingga 75 persen. "Di Surabaya tidak pernah lebih dari 60 persen," kata MA saat menghadiri Deklarasi Kampanye Damai di Hotel Singgasana, Surabaya, Sabtu sore (27/9/2020).
[irp]
Tentu pernyataan MA ini berdasarkan data akurat. Pasalnya MA mantan ketua TKD Capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf amin. MA juga pensiunan perwira tinggi Polri dan disetiap pemilu babhinkamtibmas mencatat hasil rekap di tiap TPS.
Pada pemiliu 2014 lalu, PDIP di Surabaya mendapat suara terbanyak. Bisa ditebak arah dari pernyataan MA ini. Namun yang jelas pernyataan tersebut sebuah peringatan, jangan coba-coba melakukan kecurangan di Pilwali Surabaya Desember mendatang.
MA sendiri berjanji, bersama Mujiaman wakilnya, tidak akan berbuat curang selama mengikuti tahapan di Pilwali Surabaya 2020. Bahkan, pihaknya akan memerangi seluruh potensi kecurangan saat gelaran pesta demokrasi tersebut.
"Saya tidak akan merampok dan mencopet suara di Pemilu ini. Saya juga tidak akan membakar atau menghilangkan form C1," tegasnya.
Selanjutnya MA meminta KPU, seluruh komisioner untuk galakkan pemilih agar memaksimalkan kehadiran di tengah pandemi. Pasalnya pihaknya memiliki data soal tingkat partisipasi Pilwali Surabaya yang selama ini angka golputnya cukup tinggi.
"Jangan sampai kemenangan warga Surabaya yang sangat mengiginkan perubahan, dikalahkan dengan kecurangan," tegas dia.(rtn)
Editor : Redaksi