KLIKJATIM.Com | Pasuruan – Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di Indonesia akan berpotensi menjadi perang bintang para elit politik di sejumlah daerah. Termasuk salah satunya di Pilwali Kota Pasuruan, sampai-sampai beberapa kalangan menilai sebagai ajang pertarungan ‘Perang Gengsi’ untuk merebutkan kursi Kota Pasuruan satu.
[irp]
Hingga saat ini, sudah ada dua nama bakal pasangan calon (paslon) yang telah muncul. Di antaranya Raharto Teno Prasetyo-Hasjim Asjari yang diusung dari empat Partai Politik (Parpol), yakni PDI Perjuangan, Hanura, NasDem dan Gerindra. Untuk paslon dengan jargon Tegas ini dianggap representasi petahana yang sedang berjuang mempertahankan kursi kekuasaan.
Sedangkan, bakal paslon Saifullah Yusuf-Adi Wibowo diusung dua partai besar PKB dan Partai Golkar. Lalu, juga ada PKS dan PAN. Kehadiran paslon ini dianggap akan jaga gengsi untuk memenangkan kontestasi Pilwali Kota Pasuruan.
Pasalnya Gus Ipul---sapaan Saifullah Yusuf---yang merupakan kakak kandung Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf ini memiliki rekam politik tak diragukan lagi. Jejaknya pun bisa dikatakan sudah level nasional. Antara lain pernah menjabat sebagai menteri dan Wakil Gubernur (Wagub) Jatim dua periode, sehingga bagi para pendukungnya optimis mempunyai peluang besar bakal menang dalam pertarungan 9 Desember mendatang.
Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair), Kris Nugroho mengatakan, untuk potensi kemenangan calon sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara perlakukan khusus dari DPP. Dan contohnya di Pilwali Kota Pasuruan ini menjadi daerah yang cukup menarik perhatian publik maupun elit politik.
Alasannya karena banyak kekuatan elit politik yang turut campur tangan di wilayah tersebut. Walau pun Kota Pasuruan yang wilayahnya tidak seluas kabupaten, tapi daerah setempat dinilai strategis sehingga dilirik oleh para elit politik untuk bertarung.
"Saya melihatnya ini sebagai pertarungan dua kekuatan politik besar di Kota Pasuruan," ungkapnya, Senin (31/8/2020).
Disinggung terkait kekuatan pertarungan dua Paslon, Kris mengatakan, tidak hanya akan bertumpu pada elit lokal. Tapi juga melibatkan elit politik pusat. "Pastinya ada kepentingan para elit politik pusat yang akan turun gunung meramaikan pesta demokrasi. Tidak menutup kemungkinan para elit politik pusat akan berjuang semaksimal mungkin untuk memenangkan calon masing-masing," imbuhnya.
Lebih lanjut, dia menduga dalam kontestasi Pilwali Kota Pasuruan ini juga terfokus pada ketokohan, khususnya para ulama. Karena Kota Pasuruan identik dengan sebutan kota santri. (nul)
Editor : Redaksi