KLIKJATIM.Com | Sampang – Polres Sampang mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada musim hujan 2026-2027. Pemetaan wilayah rawan bencana hingga kesiapan personel dan sarana prasarana menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan melibatkan TNI, Brimob, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Pemadam Kebakaran, BPBD Kabupaten Sampang, Tagana, Senkom, Orari, hingga petugas PLN.
Wakapolres Sampang Kompol Hery Kusnanto mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan 2026-2027 diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan jadwal normal. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur.
"Negara harus hadir untuk memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat. Kita sebagai representasi negara harus mampu menanggulangi dan meminimalkan dampak bencana. Kita semua tidak ingin ada yang menjadi korban. Kita harus bekerja sama, bersinergi, dan berkolaborasi demi tugas kemanusiaan ini," ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Hery menambahkan, Kapolda Jawa Timur juga menginstruksikan jajaran untuk memetakan daerah rawan bencana, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta memastikan kondisi personel tetap prima dalam menghadapi kemungkinan situasi darurat.
Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan bagian dari tugas kemanusiaan Polri. Karena itu, seluruh personel diminta menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan, terutama saat memberikan pertolongan kepada masyarakat terdampak.
Sejumlah potensi bencana yang menjadi perhatian di Kabupaten Sampang meliputi banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga kekeringan. Melalui kesiapan lintas sektor tersebut, pihaknya menargetkan terbentuknya ketahanan masyarakat (*community resilience*) serta menekan risiko korban jiwa hingga mencapai *zero victim*.
Sebagai gambaran, data sepanjang 2026 mencatat sebanyak 672 kejadian bencana alam di berbagai wilayah Jawa Timur. Peristiwa tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, 55 orang mengalami luka-luka, serta kerugian material mencapai Rp7,5 miliar.
Hery juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika terjadi hujan deras, angin kencang, maupun kondisi cuaca yang berpotensi memicu bencana.
Apabila terjadi bencana atau situasi darurat di lingkungan sekitar, masyarakat diminta segera menghubungi layanan Call Center Polri 110. Layanan tersebut dapat diakses secara gratis selama 24 jam.
"Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada. Jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam atau situasi darurat, segera hubungi layanan 110," pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar