KLIKJATIM.Com | Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Job Fair Inklusif 2026 di Grand City Convex Surabaya, Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan ribuan lowongan kerja dari puluhan perusahaan, termasuk kesempatan kerja khusus bagi penyandang disabilitas.
Job fair tersebut diikuti 102 perusahaan, terdiri atas 57 perusahaan yang berpartisipasi secara langsung dan 45 perusahaan melalui platform daring. Secara keseluruhan, tersedia lebih dari 4.700 lowongan kerja dengan 718 jenis jabatan yang dapat diakses pencari kerja sesuai kompetensi dan persyaratan masing-masing perusahaan.
Pelaksanaan secara langsung berlangsung pada 29–30 Oktober 2026, sedangkan layanan daring dijadwalkan pada 31 Oktober hingga 6 November 2026.
Gubernur Khofifah mengatakan, Job Fair Inklusif merupakan salah satu upaya konkret Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, sekaligus menciptakan pasar kerja yang inklusif dan berdaya saing.
"Job fair ini memberikan ruang kepada seluruh masyarakat Jawa Timur yang sedang mencocokkan antara peluangnya dengan skill yang mereka miliki," kata Khofifah.
Menurutnya, pelaksanaan secara luring dan daring diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan kompetensi para pencari kerja.
"Harapan kita bahwa yang melakukan online maupun yang melakukan offline di sini sama-sama bisa terpenuhi kebutuhannya dan masyarakat Jawa Timur yang sedang mencari kerja," ujarnya.
Khofifah menjelaskan, kesempatan kerja dalam kegiatan tersebut juga mencakup kelompok yang membutuhkan akses lebih luas ke pasar kerja. Sebanyak 11 perusahaan tercatat menyediakan sekitar 166 peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Selain itu, tersedia kesempatan kerja di luar negeri bagi 610 orang, yang didominasi jabatan di sektor formal.
"Karena ini Job Fair Inklusif, maka terbuka untuk penyandang disabilitas. Ada banyak ruang bagi penyandang disabilitas," imbuhnya.
Mengusung tema Your Skill, Your Opportunities, Your Brighter Future, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan informasi lowongan kerja, tetapi juga membuka peluang magang di dalam dan luar negeri.
Job fair tersebut turut memberikan ruang bagi mantan pekerja migran Indonesia (PMI) untuk kembali memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha.
Khofifah mencontohkan, sejumlah mantan PMI asal Blitar dan Nganjuk yang ditemuinya telah beralih menjadi pelaku usaha. Pemerintah, kata dia, berupaya memfasilitasi agar mereka dapat mengembangkan potensi ekonomi setelah kembali ke daerah asal.
"Ini tadi yang kita lihat dari Blitar dan Nganjuk itu adalah PMI yang kemudian mereka melakukan usaha. Jadi, ada yang sifatnya fasilitasi seperti itu," ungkapnya.
Ekonomi Tumbuh, Pengangguran Menurun
Khofifah menyampaikan, perekonomian Jawa Timur menunjukkan kinerja positif. Pada semester I 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,84 persen secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/c-to-c), tertinggi di Pulau Jawa.
Pertumbuhan tersebut ditopang sejumlah sektor produktif, terutama industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan jasa.
Perbaikan ekonomi turut diikuti penurunan tingkat pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 tercatat 3,42 persen, turun 0,13 poin persentase dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 3,55 persen.
Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 75,14 persen, dengan jumlah angkatan kerja sekitar 25,32 juta orang. Adapun proporsi pekerja formal tercatat sebesar 36,18 persen.
"Alhamdulillah, tingkat pengangguran di Jawa Timur terus menunjukkan perbaikan. Namun, dengan jumlah angkatan kerja yang besar, kita harus terus memperluas kesempatan kerja dan memastikan kompetensi tenaga kerja semakin sesuai dengan kebutuhan industri," tegasnya.
Khofifah menambahkan, tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga kesenjangan kompetensi atau skill mismatch. Selain itu, keterhubungan antara pencari kerja dan perusahaan serta perubahan kebutuhan keterampilan akibat transformasi digital perlu menjadi perhatian.
Karena itu, Pemprov Jatim terus memperkuat pendidikan dan pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, serta kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri melalui program Jatim Kerja dalam Nawa Bhakti Satya Jilid II.
Menurut Khofifah, peningkatan kompetensi tenaga kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan industri. Dalam kunjungannya ke sejumlah stan perusahaan, ia juga menemukan adanya perusahaan yang menyediakan program peningkatan keterampilan atau upskilling bagi calon pekerja.
"Tadi yang saya tinjau itu ada yang siap untuk memberikan upskilling kalau misalnya dari skill yang dimiliki masih membutuhkan proses penguatan kembali," katanya.
Ia berharap, Job Fair dapat mempertemukan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan sehingga proses rekrutmen berjalan lebih efektif.
"Kita berharap bahwa kesesuaian skill yang mereka miliki dengan kebutuhan dari masing-masing unit yang sedang melakukan proses rekrutmen ini ketemu di sini," ujarnya.
Khofifah menegaskan, keberhasilan Job Fair tidak cukup diukur dari banyaknya lowongan yang tersedia. Hal terpenting adalah jumlah pencari kerja yang berhasil memperoleh pekerjaan setelah mengikuti proses rekrutmen.
Karena itu, ia meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur bersama perusahaan peserta memastikan proses rekrutmen ditindaklanjuti hingga tahap penempatan tenaga kerja.
"Job Fair harus menjadi jembatan nyata antara pencari kerja dan perusahaan. Yang paling penting bukan sekadar jumlah lowongan, tetapi berapa banyak pencari kerja yang akhirnya mendapatkan pekerjaan," tegasnya.
Perluas Kesempatan Kerja Inklusif
Selain memperluas penyerapan tenaga kerja, Pemprov Jatim memberikan perhatian khusus terhadap kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas.
Khofifah menegaskan, setiap individu berhak memperoleh kesempatan kerja berdasarkan kompetensi dan kemampuannya tanpa diskriminasi. Komitmen tersebut diperkuat melalui layanan penempatan kerja inklusif dan penguatan Unit Layanan Disabilitas Ketenagakerjaan.
Ia secara khusus mengapresiasi PT Pei Hai International Wiratama Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk., dan PT Global Way Indonesia atas komitmen mereka dalam mempekerjakan penyandang disabilitas.
"Kita ingin semakin banyak perusahaan membuka kesempatan kerja yang inklusif. Penyandang disabilitas memiliki potensi dan kompetensi yang harus diberikan ruang untuk berkembang serta berkontribusi dalam dunia kerja," ungkapnya.
Khofifah juga mengingatkan bahwa perluasan kesempatan kerja harus diikuti dengan perlindungan bagi pekerja melalui kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Menurutnya, penyerahan manfaat BPJS Ketenagakerjaan dalam rangkaian kegiatan tersebut menjadi pengingat pentingnya jaminan sosial untuk memberikan rasa aman kepada pekerja dan keluarganya ketika menghadapi risiko kerja.
"Kesempatan kerja yang semakin luas harus diikuti dengan perlindungan yang memadai. Kita ingin masyarakat Jawa Timur tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi juga dapat bekerja dengan aman, produktif, dan sejahtera," ujarnya.
Khofifah berpesan kepada para pencari kerja, khususnya generasi muda, agar memanfaatkan Job Fair 2026 untuk mengenali peluang karier, meningkatkan keterampilan, dan menunjukkan kemampuan terbaik.
Ia optimistis, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing ekonomi Jawa Timur.
"Kita perlu membangun sinergi bersama, termasuk dengan Universitas Airlangga, Ikatan Alumni Unair, dan unit-unit usaha. Semakin banyak sinergi yang kita bangun, insyaallah manfaatnya juga semakin besar," pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar