klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Ancaman Longsor Bayangi Desa Darungan Jember, Retakan Tanah Memanjang 30 Meter hingga Dekati Rumah Warga

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Retakan Jalan Setapak khawatir sebabkan longsor di Jember.
Retakan Jalan Setapak khawatir sebabkan longsor di Jember.

KLIKJATIM.Com | Jember – Potensi bencana tanah longsor kini mengintai sedikitnya lima rumah warga di Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kekhawatiran ini muncul setelah retakan tanah di jalan setapak penghubung Padukuhan Kidul Sawah dan Padukuhan Krajan semakin melebar hingga mencapai panjang hampir 30 meter.

Lebih mengkhawatirkan lagi, jarak antara garis retakan tanah dengan pondasi bangunan rumah warga kini diperkirakan hanya tersisa sekitar lima hingga enam meter. Kondisi ini kian kritis seiring tingginya curah hujan yang belakangan mengguyur kawasan tersebut.

Kondisi rawan ini mencuat ke publik setelah unggahan akun Facebook @Abd R. di grup media sosial Info Warga Tanggul viral dan memantik perhatian masyarakat luas.

Kepala Desa Darungan, H. Sukron Arafid, mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah sebenarnya telah mulai terlihat mencolok sejak musim kemarau lalu. Struktur tanah yang merekah kemudian diperparah oleh kikisan air hujan yang kerap turun dalam beberapa hari terakhir.

"Sejak musim kemarau, retakan tanah sudah semakin terlihat dan melebar. Sekarang hujan juga sering turun, sehingga tanah semakin terkikis dan berpotensi longsor. Kondisinya makin mengkhawatirkan karena sudah mendekati pondasi rumah warga," ungkap Sukron saat dikonfirmasi media. 

Sukron menceritakan, kepanikan warga sempat memuncak pada Rabu sore jelang waktu magrib setelah warga menemukan celah retakan tanah semakin membesar dibanding biasanya. Warga khawatir labilnya tanah dapat memicu longsor mendadak saat malam hari.

Menurut Sukron, gejala keretakan tanah di wilayah tersebut sebenarnya merupakan persoalan lama yang membelit warga sejak tahun 1995. Namun, hingga puluhan tahun berlalu, belum ada penanganan fisik maupun mitigasi teknis yang permanen di lokasi tersebut.

"Sejak sekitar tahun 1995 kondisinya sudah seperti itu. Setiap musim hujan tanah terus terkikis, sedangkan saat kemarau muncul retakan-retakan. Ketika hujan turun, tanah bisa langsung longsor. Yang paling mengkhawatirkan ada lima rumah warga. Kalau tidak segera diantisipasi, kami khawatir longsoran akan semakin mendekati permukiman," tegasnya.

Meski diliputi rasa cemas, hingga saat ini warga terdampak dilaporkan masih bertahan di rumah masing-masing. Belum ada upaya evakuasi mandiri maupun pengungsian, sementara pemerintah desa menyiagakan perangkat dan kepala dusun untuk memantau pergerakan tanah secara berkala.

Jalan setapak yang mengalami retakan parah tersebut merupakan rujukan jalur mobilitas utama warga Padukuhan Kidul Sawah dan Padukuhan Krajan. Akses jalan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat ini hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua pada titik-titik tertentu.

Tak hanya mengancam badan jalan dan rumah warga, pergerakan tanah yang terus dinamis ini turut mengancam infrastruktur vital lain di sekitarnya, termasuk sebuah jembatan gantung yang posisinya berdekatan dengan pusat retakan.

Sukron menegaskan bahwa pihak desa telah berulang kali melayangkan usulan penanganan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember hingga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, bahkan sempat ditinjau oleh pejabat daerah pada periode sebelumnya.

"Sudah pernah diajukan ke kabupaten dan provinsi, bahkan dulu pernah ditinjau langsung oleh Bupati Pak Jalal. Tapi ya setelah itu tidak ada tindak lanjut. Saya bahkan sampai malu dengan warga untuk meninjau ke sana lagi," beber Sukron.

Pemerintah Desa Darungan menduga keterbatasan anggaran menjadi kendala utama terhambatnya penanganan fisik di lokasi. Kendati demikian, pihak desa mendesak instansi teknis terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan kajian geologi serta langkah mitigasi darurat.

"Harapan kami, segera ada penanganan. Jangan sampai menunggu rumah warga terdampak lebih parah baru dilakukan tindakan," pungkasnya

Editor :