klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Tongtong Sumenep Bersiap Guncang Parade MotoGP Mandalika 2026

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
LOMBA : Potret Tongtong Angin Ribut Sumenep saat tampil dalam kompetisi musik tongtong se-Madura tahun 2025 (doc. Istimewa/Klikjatim.Com)
LOMBA : Potret Tongtong Angin Ribut Sumenep saat tampil dalam kompetisi musik tongtong se-Madura tahun 2025 (doc. Istimewa/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep - Suara khas musik tongtong dari Sumenep, Madura, bakal mendapat panggung tak biasa. Di tengah deru mesin dan parade para pebalap MotoGP, kesenian tradisional itu akan ikut menyemarakkan gelaran MotoGP Mandalika 2026.


Grup Tongtong Angin Ribut Sumenep dijadwalkan tampil dalam Rider Parade MotoGP Mandalika pada 7 Oktober 2026. Penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi kesenian lokal Madura untuk menjangkau penonton yang lebih luas, termasuk masyarakat dari berbagai negara.


Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, kehadiran tongtong bukan hanya soal mengisi acara. Musik tradisional tersebut dibawa sebagai representasi identitas Madura sekaligus bagian dari promosi kebudayaan daerah.


Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, menyebut keterlibatan grup tongtong memiliki makna lebih dari sekadar hiburan.


“Bukan sekadar ajang MotoGP biasa. Saat mesin-mesin motor meraung, suara tongtong Madura juga bersiap menggema,” kata Faruk, Rabu (30/9).


Menurut Faruk, Tongtong Angin Ribut Sumenep telah disiapkan untuk memberikan pertunjukan yang atraktif. Kehadiran mereka sekaligus ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap memiliki ruang di tengah agenda internasional yang identik dengan teknologi dan olahraga modern.


Bagi Sumenep, momentum tersebut juga membuka jalur lain untuk memperkenalkan kekayaan budaya Madura. Musik tongtong yang selama ini tumbuh sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat akan dipertemukan dengan atmosfer perhelatan olahraga dunia.


Senada dengan hal itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, turut menekankan pentingnya menjaga keberadaan kebudayaan daerah. 


Menurut dia, warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan di lingkungan asalnya, tetapi juga perlu diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.


“Kebudayaan merupakan identitas yang harus terus dirawat, sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat luas,” ujar Fauzi.


Keterlibatan Tongtong Angin Ribut dalam rangkaian MotoGP Mandalika 2026 pun diharapkan memberi efek ganda. Selain menjadi ruang tampil bagi pelaku seni, kesempatan itu dapat membantu memperkenalkan Sumenep dan Madura sebagai wilayah yang memiliki kekayaan tradisi kepada pengunjung dan penonton dari luar daerah.


Perpaduan antara parade pebalap dan musik tongtong juga memperlihatkan bahwa budaya lokal bisa mengambil tempat dalam perhelatan berskala internasional.


Tradisi yang lahir dan berkembang di tengah masyarakat Madura kini mendapat kesempatan untuk terdengar di panggung yang jauh lebih besar.


Bagi Sumenep, 7 Oktober bukan sekadar jadwal pertunjukan. Hari itu menjadi momentum untuk membawa salah satu bunyi khas Madura keluar dari ruang lokal dan memperkenalkannya kepada dunia.

Editor :