klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Bazaar Runfest PT Susanti Megah Jadi Ajang Edukasi Garam

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Kegiatan "Bazaar Runfest" untuk memperingati hari ulang tahun ke-48 perusahaan.
Kegiatan "Bazaar Runfest" untuk memperingati hari ulang tahun ke-48 perusahaan.

KLIKJATIM.Com | Surabaya  - PT Susanti Megah, produsen "Garam Beryodium Cap Kapal", menggelar kegiatan "Bazaar Runfest" untuk memperingati hari ulang tahun ke-48 perusahaan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang mempererat hubungan dengan tenant pengguna garam cap Kapal dan masyarakat serta memberikan edukasi mengenai pentingnya konsumsi garam yang diproses secara baik.

 


Direktur Utama PT Susanti Megah, Hermawan Santoso, mengatakan Runfest tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah sebelumnya digelar di Citraland. Antusiasme masyarakat meningkat signifikan, tercermin dari jumlah peserta yang melampaui kuota yang disediakan perusahaan.

 


Tahun lalu, jumlah peserta ditargetkan 1.500 orang, namun membengkak lebih dari 20 persen menjadi sekitar 1.800 peserta. Tahun ini kuota kembali ditambah menjadi 2.500 peserta, tetapi jumlah pendaftar mencapai sekitar 3.100 orang. "Saya juga gembira, berarti orang-orang itu senang dengan acara kita, Runfest dari Susanti Megah ini," ujar Hermawan disela kegiatan Bazaar Funfest PT Susanti Megah yang digelar di Bay Arena Kenjeran Surabaya, Minggu (20/9/2026).

 


Ia mengungkapkan, Runfest tahun ini terdiri atas tiga kategori, yakni lari 10 kilometer, 5 kilometer, serta 2,5 kilometer yang diperuntukkan bagi keluarga, termasuk anak-anak. Menurut Hermawan, kegiatan lari dipilih karena olahraga tersebut memiliki basis masyarakat yang luas dan mulai dipersiapkan perusahaan sejak sekitar lima tahun lalu sebelum akhirnya digelar pertama kali pada tahun sebelumnya.

 


Selain menjadi kegiatan perayaan ulang tahun, Hermawan mengatakan Runfest juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi garam yang telah melalui proses pengolahan. Menurutnya, garam rakyat yang diperoleh dari tambak tidak serta-merta dapat dikonsumsi tanpa melalui proses pemurnian.

 


Ia menjelaskan, garam rakyat rata-rata memiliki kadar sekitar 80 persen. Melalui proses pengolahan dan pemurnian, Susanti Megah meningkatkan kemurnian garam hingga sekitar 97-98 persen sebelum digunakan sebagai produk konsumsi.

 


Hermawan menilai edukasi tersebut penting karena masih banyak masyarakat yang hanya melihat garam dari rasa asin, tanpa memperhatikan kandungan dan proses pengolahannya. Ia mengingatkan bahwa garam yang langsung berasal dari tambak dapat membawa berbagai kandungan sehingga perlu diproses sebelum dikonsumsi. "Masih banyak yang beranggapan yang penting garam, yang penting asin. Tapi kadar kandungan yang di dalam, yang dikandung itu apakah betul-betul aman?" kata Hermawan.

 


Menurutnya, kondisi bahan baku menjadi salah satu alasan pentingnya garam harus melalui tahapan pemurnian sebelum dikonsumsi. "Dulu saat kami melakukan pemrosesan tidak ada busanya, tetapi sekarang banyak sekali keluar busa," ujarnya.

 


Dari sisi produksi, Susanti Megah saat ini memiliki kapasitas produksi sekitar 180 ribu ton per tahun. Perusahaan memiliki fasilitas produksi di Dupak Rukun, Surabaya dan di Sumur Bandung kecamatan Jayanti, Tangerang, Banten, dan tengah menyiapkan pabrik baru di Gresik yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini.

 


Pabrik baru di Gresik tersebut memiliki tiga lini produksi dengan kapasitas masing-masing 15 ton per jam, 15 ton per jam, dan 10 ton per jam. Dengan demikian, kapasitas terpasang pabrik tersebut mencapai 40 ton per jam, meski realisasi produksinya tetap bergantung pada kemampuan pasar menyerap produk. 

 


Pabrik di Gresik ini diharapkan bisa membantu pemerintah untuk mengurangi ketergantungan garam impor karena garam yang dihasilkan bisa mensupport kebutuhan garam industri, seperti industri makanan dan minuman serta farmasi. 

 


Lebih lanjut Hermawan mengatakan, pasar Susanti Megah telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan dukungan distributor hampir di seluruh Indonesia. Namun, perusahaan masih berfokus memenuhi kebutuhan pasar domestik karena Indonesia masih melakukan impor garam untuk kebutuhan industri. "Indonesia itu masih import. Jadi nggak bisa ekspor. Domestik aja masih import, masih kurang," katanya.

 


Terkait rencana pemerintah menghentikan impor garam pada 2028, Hermawan menilai kebijakan tersebut dapat menjadi langkah positif apabila produksi dalam negeri telah mampu memenuhi kebutuhan. Namun, ia menekankan perlunya kesiapan produksi dan ketersediaan bahan baku, mengingat kebutuhan garam industri mencapai sekitar 3 juta ton, sementara kondisi iklim Indonesia membuat produksi garam sangat bergantung pada musim.

 


Menurut Hermawan, kebutuhan garam tidak hanya berasal dari sektor industri kimia, tetapi juga makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, hingga produk rumah tangga seperti sabun. Karena itu, pemenuhan kebutuhan garam industri dari dalam negeri membutuhkan kesiapan produksi yang memadai. Sementara untuk konsumsi rumah tangga, kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 760 ribu ton per tahun dan dinilai masih dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri

Editor :