KLIKJATIM.Com | Bekasi — Puncak musim kemarau tak lagi menjadi penghalang bagi para petani di Desa Cicau, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Melalui program Electrifying Agriculture (EA) yang diinisiasi oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT), Kelompok Tani Berkah Sakabeh yang menggarap lahan seluas 40 hektare di sekitar jalur transmisi SUTET 500 kV Cibatu–Deltamas kini mampu menjaga produktivitas secara mandiri.
Sebelumnya, para petani sangat bergantung pada pompa ber bahan bakar minyak (BBM) yang menyedot biaya operasional terbilang tinggi. Kini, hadirnya sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 volt ampere (VA) yang terintegrasi dengan pompa air irigasi mengubah pola pengairan menjadi lebih praktis dan ekonomis.
Listrik tersebut berhasil memangkas konsumsi BBM hingga 2.560 liter per tahun, dengan total pemakaian listrik mencapai 11.994 kWh dalam setahun. Berkat kepastian pasokan air, intensitas tanam petani meningkat dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.
"Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik. Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun. Pendapatan petani juga meningkat sekitar Rp12 juta setiap tahun," ungkap Masum, local hero Kelompok Tani Berkah Sakabeh.
Tidak hanya menyediakan daya listrik untuk penyedotan air, PLN turut menyerahkan bantuan peralatan modern berbasis listrik meliputi dua unit traktor listrik, mesin perontok padi, mesin pemotong rumput listrik, hingga saung petani yang dilengkapi panel listrik. Petani juga mendapatkan bantuan bibit padi dan cabai serta pelatihan pengolahan pascanen dan pemasaran produk.
Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menjelaskan bahwa penerapan Electrifying Agriculture merupakan strategi konkret PLN dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah.
“Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami berharap model ini dapat direplikasi di lebih banyak wilayah,” tegas Rozy.
Rozy menambahkan, tren positif penyerapan listrik di sektor produktif tercermin dari capaian nasional Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine (EA-EM) PLN yang hingga Agustus 2026 telah menjangkau 450.654 pelanggan dengan total daya terpasang 5.646 MVA dan pemakaian listrik menembus 4.970,98 GWh.
Sementara itu, General Manager PLN UIT JBT, Amiruddin, menegaskan bahwa komitmen PLN tidak berhenti pada penyerahan bantuan fisik semata, melainkan memastikan keberlanjutan dampak program bagi kemandirian petani.
“Bagi kami, keberhasilan program ini bukan hanya tentang apa yang diberikan hari ini, tetapi bagaimana manfaatnya dapat terus tumbuh dan dirasakan oleh para petani ke depan. Kami ingin memastikan dukungan yang diberikan mampu mendorong kemandirian dan membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha pertaniannya,” pungkas Amiruddin.
Editor : Fatih