klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Kearifan Nelayan Puger Jadi Pelajaran Sains, Siswa Diajak Kenali Ancaman Tsunami

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika Berbasis Eksplorasi Astro-Oceanografi
Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika Berbasis Eksplorasi Astro-Oceanografi

KLIKJATIM.Com | Jember  -Pengetahuan nelayan Puger dalam membaca bintang, bulan, angin dan gelombang laut kini masuk ke ruang kelas.

Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) memadukan pengetahuan yang diwariskan masyarakat pesisir tersebut dengan pendekatan sains untuk membantu siswa memahami fenomena alam sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi tsunami.


Upaya itu dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika Berbasis Eksplorasi Astro-Oceanografi untuk Penguatan Literasi Sains dan Kesiapsiagaan Bencana Bermuatan Kearifan Lokal Pesisir Puger.”


Program tersebut berlangsung sejak Juni hingga September 2026. Tim terdiri atas Shofiyatul Lailiyah, Ina Frebianti, Mabruroh, Aziziyatur Rahmah dan Auri Letha Azzura Wijaya, dengan dosen pembimbing Lailatul Nuraini, S.Pd., M.Pd.


Sebelum diterapkan kepada siswa, mahasiswa terlebih dahulu menggali pengetahuan masyarakat nelayan Puger. Sejumlah nelayan diwawancarai untuk mengetahui cara mereka membaca kondisi alam sebagai bagian dari aktivitas melaut.


Dari proses tersebut, tim menemukan pengetahuan mengenai rasi bintang Talu-talu. Tiga bintang yang tersusun lurus dari timur ke barat itu digunakan nelayan sebagai salah satu penunjuk arah dan penanda waktu sebelum penggunaan kompas dikenal.


Tidak hanya bintang, nelayan juga memperhatikan posisi bulan, arah angin, pola gelombang serta pasang-surut air laut. Berbagai pengetahuan tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep fisika, astronomi dan oseanografi.


Ketua Tim PKM-RSH Shofiyatul Lailiyah mengatakan pengetahuan masyarakat sengaja dijadikan pintu masuk agar siswa dapat memahami sains melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.


“Kami ingin siswa tidak hanya mempelajari fisika sebagai teori di dalam kelas. Pengetahuan yang sudah hidup di masyarakat nelayan kami jadikan pintu masuk untuk memahami sains, sekaligus membangun kesadaran bahwa mereka tinggal di wilayah yang memiliki potensi bencana tsunami,” ujarnya.


Salah seorang nelayan Puger, Sugiyono, mengatakan kemampuan membaca tanda-tanda alam merupakan pengalaman yang telah diwariskan antargenerasi.


“Bagi nelayan, melihat bintang, bulan, angin dan gelombang bukan sekadar kebiasaan. Tanda-tanda alam itu menjadi bagian dari pengetahuan untuk menentukan waktu dan arah ketika berada di laut,” ungkapnya.


Pengetahuan lokal tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sejumlah media pembelajaran. Mahasiswa mengembangkan media reel berupa simulasi tsunami, media digital interaktif berbasis Articulate Storyline serta buku panduan untuk siswa.


Dengan pendekatan sains, siswa tidak hanya diperkenalkan pada istilah atau teori, tetapi diajak melihat hubungan antara fenomena yang mereka temui di lingkungan pesisir dengan konsep ilmiah. Salah satunya melalui pengamatan bulan untuk memahami hubungan fase bulan dengan pasang-surut air laut dan aktivitas nelayan.


Program tersebut diterapkan di SMKS Puger pada Agustus 2026 dengan melibatkan 54 siswa kelas X Akuntansi dan X Usaha Layanan Wisata.


Dalam kegiatan itu, siswa mencoba simulasi tsunami dan menggunakan media pembelajaran digital yang telah dikembangkan tim. Pembelajaran kemudian dievaluasi melalui pretest dan posttest untuk melihat perkembangan literasi sains serta kesiapsiagaan bencana siswa.


Dosen pembimbing Lailatul Nuraini mengatakan kearifan lokal masyarakat pesisir dapat menjadi konteks pembelajaran selama dikaitkan secara tepat dengan konsep ilmiah.


“Pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa dapat melihat hubungan antara konsep yang dipelajari dengan realitas di lingkungan mereka. Kearifan lokal masyarakat pesisir tidak kami tempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari sains, tetapi sebagai konteks untuk membangun pemahaman dan berpikir kritis,” ujarnya.


Selain menggali pengetahuan nelayan, tim juga mengamati tradisi Petik Laut Puger pada 30 Juni 2026. Tradisi tersebut menjadi salah satu konteks dalam pembelajaran karena berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat nelayan.


Petik Laut merupakan ungkapan syukur masyarakat nelayan atas rezeki dari laut. Rangkaian tradisi itu meliputi sejumlah kegiatan, di antaranya khataman Al-Qur’an, tahlil, kirab budaya, pagelaran wayang kulit hingga prosesi pelarungan sesaji.


Melalui program tersebut, mahasiswa UNEJ berupaya mempertemukan pengetahuan masyarakat, pembelajaran sains dan kesiapsiagaan bencana dalam satu konteks yang dekat dengan kehidupan siswa Puger.


Shofiyatul berharap model pembelajaran tersebut dapat dikembangkan di sekolah-sekolah pesisir lainnya sehingga siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca lingkungan dan memiliki kesiapan menghadapi potensi bencana di wilayah tempat tinggalnya.


“Kami berharap model pembelajaran ini dapat dikembangkan lebih luas di sekolah-sekolah pesisir Indonesia sehingga siswa mampu memahami lingkungan sekaligus lebih siap menghadapi potensi bencana yang ada di sekitarnya,” pungkasnya.

Editor :