klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

ABK Ungkap Dugaan Awal Penyebab Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
Salah satu ABK KM Mutiara Sentosa 2 saat menjalani perawatan medis. (Hendra/Klikjatim)
Salah satu ABK KM Mutiara Sentosa 2 saat menjalani perawatan medis. (Hendra/Klikjatim)

KLIKJATIM.Com | Sumenep – Kebakaran yang melanda KM Mutiara Sentosa 2 saat berlayar di rute Surabaya–Makassar, tepatnya di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, diduga bermula dari sebuah kendaraan yang mengangkut thinner di area muatan kapal.

Salah seorang Anak Buah Kapal (ABK), Muhammad Disty Ibnu Pratama, menuturkan dirinya masih tertidur ketika insiden tersebut terjadi.

"Sekitar pukul 06.00 WIB ada informasi terjadi kebakaran di bawah area muatan. Katanya berasal dari mobil yang membawa thinner. Karena panas, akhirnya meledak," ujarnya, Senin (3/8).

Menurut Disty, kobaran api sempat berhasil dipadamkan. Namun, tidak lama kemudian api kembali muncul dan semakin membesar hingga menjalar ke bagian lain kapal.

"Setelah itu seluruh penumpang dan kru diminta naik ke dek atas untuk menyelamatkan diri. Kami mengenakan jaket pelampung dan diarahkan duduk di bagian depan kapal karena dianggap lokasi yang paling aman," katanya.

Sekitar pukul 10.00 WIB, sejumlah kapal penyelamat mulai berdatangan ke lokasi untuk melakukan proses evakuasi.

"Setelah ada instruksi untuk turun, kami semua turun ke laut. Saya terombang-ambing di laut sekitar pukul 12.00 WIB hingga 16.00 WIB sebelum akhirnya diselamatkan Kapal Tanker Suci. Ada juga yang sempat melompat sebelum ada instruksi kapten, tetapi syukurlah selamat," ungkapnya.

Disty yang baru sekitar sepekan bekerja sebagai ABK di KM Mutiara Sentosa 2 mengaku kondisinya kini telah membaik setelah menjalani perawatan di RSIG Kalianget.

"Sekarang kondisi saya sudah membaik. Saya tidak merasa trauma dengan kejadian ini. Keluarga juga sudah mengetahui peristiwa tersebut," tuturnya.

Selain ABK, sejumlah penumpang juga memilih melompat ke laut untuk menghindari kobaran api yang terus membesar.

Salah seorang penumpang, Idi, mengaku bertahan hidup dengan bergandengan tangan bersama rekannya selama berada di tengah laut.

"Alhamdulillah semuanya selamat. Saya belum tahu apakah keluarga sudah mendapat kabar tentang kejadian ini atau belum," ucapnya.

Idi mengatakan, dirinya bersama enam rekannya sedang dalam perjalanan menuju Makassar untuk berdagang ketika musibah itu terjadi.

"Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Hanya badan ini yang selamat," katanya.

Peristiwa tersebut menjadi pengalaman paling mengerikan yang pernah dialaminya. Trauma akibat insiden itu membuatnya enggan kembali berdagang ke luar daerah dalam waktu dekat.

"Saya masih trauma. Untuk sementara saya tidak ingin lagi berdagang jauh. Mungkin nanti cukup berjualan di Jawa Barat, sekitar Karawang dan Bandung saja," pungkasnya.

Editor :