klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

22 Siswa Mual-Muntah Usai Makan MBG, SPPG di Blitar Kena Setop Operasional

avatar Iman
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi sekolah penerima MBG
Ilustrasi sekolah penerima MBG

KLIKJATIM.Com | Blitar - Sejumlah siswa SLB dan SMP swasta di Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengalami mual dan muntah setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (17/9). Sebanyak 22 siswa sempat mengalami gangguan pencernaan dan langsung mendapat penanganan medis.

Meski seluruh siswa kini telah dalam kondisi sehat, pemeriksaan terhadap sampel makanan MBG masih dilakukan. Pemeriksaan tersebut juga mencakup dugaan adanya kandungan zat arsenik dalam makanan.

Korwil BGN Kota Blitar, Titik Nur Azizah, mengatakan SPPG yang menyediakan makanan tersebut telah diminta menghentikan sementara operasionalnya. Penghentian dilakukan maksimal selama 20 hari kalender hingga hasil pemeriksaan laboratorium dan rekomendasi dari Dinas Kesehatan diterima.

"Kemudian tindak lanjut di SPPG per Kamis (17/9), langsung keluar surat berhenti operasional sementara. Maksimal di 20 hari kalender. Untuk pembukaannya nanti kami menunggu surat rekomendasi dari Dinas Kesehatan dengan dilengkapi dengan hasil uji lab dari sampel makanan yang diujikan," kata Titik, Senin (21/9/2026).

Ia menjelaskan, 22 siswa yang mengalami gejala gangguan pencernaan langsung dibawa ke puskesmas dan rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan. Tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap. Setelah mendapat penanganan medis, seluruhnya diperbolehkan pulang.

Sementara itu, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan masih ditunggu. Titik mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab munculnya gejala tersebut maupun apakah terdapat zat berbahaya dalam makanan.

Adapun menu MBG yang disiapkan SPPG saat kejadian terdiri dari nasi putih, kacang kapri, tahu kuning, rolade telur sebagai sumber protein, serta buah melon.

"Kalau kemarin kan ada indikasi adanya zat arsenik yang di dalam makanan. Kemungkinan itu dari pestisida yang dari bahan baku. Tapi kami juga belum bisa memastikan karena menunggu hasil laboratorium. (Sampel) dikirim ke Surabaya," jelasnya.

Titik menambahkan, apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan kandungan arsenik, SPPG akan diminta melakukan evaluasi secara menyeluruh. Evaluasi terutama menyangkut prosedur dalam menyiapkan bahan baku makanan, termasuk proses pencucian dan menjaga kebersihan makanan.

"Kalau memang itu (zat arsenik) ada di bahan baku karena pestisida, dari SPPG harus memperhatikan SOP untuk persiapan bahan baku. Untuk pencucian, dan harus ditekankan lagi untuk menjaga kebersihan makanan. Harus dievaluasi," tegasnya.


Terpisah, Ketua Satgas MBG Kota Blitar, Tri Iman Prasetyono, mengatakan pihaknya telah melakukan konsolidasi dengan seluruh SPPG. Konsolidasi tersebut dilakukan sebagai upaya mencari solusi sekaligus mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Menurut Tri Iman, kejadian yang dialami sejumlah siswa menjadi bahan evaluasi bagi SPPG lain agar lebih berhati-hati dalam menyiapkan dan menyajikan makanan. Hal itu penting karena setiap penerima manfaat memiliki kondisi tubuh dan tingkat sensitivitas terhadap bahan makanan yang berbeda.judu

Dalam satu SPPG, lanjutnya, jumlah penerima manfaat dapat mencapai hampir 2.000 orang. Karena itu, potensi adanya penerima manfaat yang sensitif terhadap bahan tertentu juga perlu menjadi perhatian.

"Misalnya, keluhan seperti bagaimana SPPG mengurus perizinan. Kami menyampaikan kepada SPPG apa yang harus dilakukan, apabila ada kesulitannya kami carikan solusi. Misal ada yang sensitif terhadap bahan tertentu, maka mungkin dari 2.000 penerima manfaat itu ada 10 orang. Nah, untuk itu SPPG harus berhati-hati," ujarnya.

Selain itu, Tri Iman mengingatkan setiap SPPG untuk menyimpan sampel makanan yang telah dibagikan kepada penerima manfaat. Sampel tersebut diperlukan sebagai bahan pemeriksaan apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan, sehingga penyebabnya dapat ditelusuri.

Sampel makanan, kata dia, harus disimpan pada suhu di bawah 5 derajat Celsius. Sampel baru dapat dibuang setelah dipastikan tidak ada laporan kejadian dari penerima manfaat.

"Ini salah satu teknik dari Dinkes ke SPPG, sampel makanan bisa dibuang setelah dipastikan tidak ada laporan peristiwa. Kalau pun ada kejadian, itu dapat dilihat dari apa penyebabnya. Teknik ini disampaikan ke seluruh SPPG supaya tidak terulang kejadian serupa," tandasnya.

Editor :