klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Ketika AI Menulis dalam Sekejap, Media Lokal Membuktikan Nilai Kepercayaan

avatar M Nur Afifullah
  • URL berhasil dicopy
Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Banyuwangi
Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Banyuwangi

KLIKJATIM.Com | Banyuwangi  -Kecerdasan buatan kini hanya membutuhkan hitungan detik untuk menghasilkan sebuah berita. Satu perintah sederhana dapat melahirkan ratusan paragraf, lengkap dengan judul, kutipan, bahkan kesimpulan yang tampak meyakinkan. Namun di balik kecepatan itu, terselip pertanyaan yang mulai mengusik ruang-ruang redaksi. Jika mesin mampu menulis lebih cepat dari pada manusia, masihkah media lokal memiliki masa depan?


Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Banyuwangi. Forum yang mempertemukan jurnalis dari Jawa hingga Papua itu tidak sekadar membahas perkembangan teknologi, tetapi juga mengajak insan pers meninjau kembali fondasi profesinya.


Jawaban yang muncul ternyata sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Masa depan media tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat menyajikan informasi, melainkan oleh siapa yang paling dipercaya.


Di tengah banjir informasi digital, masyarakat memang semakin mudah memperoleh berita. Namun, pada saat yang sama, mereka semakin sulit membedakan mana informasi yang benar, mana yang sekadar opini, bahkan mana yang dihasilkan sepenuhnya oleh mesin.
Di titik inilah media profesional kembali menemukan relevansinya.


Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Sigit Dwi Aryono, menegaskan bahwa, media tetap menjadi mitra strategis dalam membangun literasi publik, terutama mengenai industri hulu migas yang sarat isu teknis dan kerap diselimuti berbagai informasi yang belum terverifikasi.


"Bagi kami, media bukan hanya sekadar saluran komunikasi, tetapi merupakan mitra strategis untuk membangun informasi publik yang sehat dan edukatif terkait industri migas," ujarnya. Jum'at (10/7/2026).


Peran media yang begitu penting juga tercermin dari data SKK Migas. Perwakilan SKK Migas, Arif Hermawan, mengungkapkan bahwa, sepanjang Januari hingga Juni 2026 terdapat 12.560 pemberitaan mengenai sektor hulu migas yang termonitor. Sebanyak 98 persen di antaranya bernada positif dan netral, sementara hanya dua persen yang negatif. Volume pemberitaan pun meningkat signifikan dari bulan ke bulan.


Bagi SKK Migas, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap berita terdapat persepsi publik yang akan memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri energi nasional. Karena itu, komunikasi dengan media terus diperkuat melalui siaran pers, media briefing, media education, kunjungan media, hingga pemanfaatan platform digital.


"Kami memantau semua kanal, dari media massa sampai digital. Harapannya, kolaborasi dengan media bisa membantu kami menyampaikan potensi migas Indonesia yang besar kepada publik," kata Arif.


Sementara itu, Chief Content Officer KapanLagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut, mengingatkan bahwa, AI bukanlah lawan jurnalis. Teknologi hanyalah alat yang dapat mempercepat pekerjaan, bukan menggantikan tanggung jawab jurnalistik.


Mesin memang mampu menyusun kalimat. Namun ia tidak dapat merasakan keresahan masyarakat, memahami bahasa tubuh narasumber, menangkap keheningan di lokasi kejadian, ataupun menimbang nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik sebuah peristiwa.


Karena itulah, menurutnya, berita yang hanya menjawab apa yang terjadi tidak lagi cukup. Jurnalisme masa depan harus mampu menjelaskan mengapa peristiwa itu penting dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.


Ia merumuskan konsep sederhana, berita ditambah konteks, data, dan FAQ akan melahirkan pengetahuan. Inilah nilai tambah yang tidak bisa dihasilkan hanya dengan mengandalkan kecerdasan buatan.


Transformasi juga harus menyentuh aspek bisnis media. Chief Executive Officer Suara.com, Suwarjono, menilai perusahaan pers perlu membangun sumber pendapatan yang lebih beragam agar tetap independen.


"Event, riset pasar, social listening, pelatihan, hingga kolaborasi menjadi bagian dari strategi agar media tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang," katanya.


Namun satu hal yang belum dapat diprogram ke dalam algoritma adalah integritas. Iya pun menilai Integritas lahir dari proses peliputan, verifikasi, keberanian menguji fakta, kedekatan dengan masyarakat, dan tanggung jawab moral kepada publik.


"Selama nilai-nilai itu masih dijaga, media lokal tidak sedang menghadapi akhir dari perjalanannya. Justru di tengah banjir informasi yang diproduksi mesin, media lokal memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam jurnalisme. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang pembaca bukanlah siapa yang pertama menulis, melainkan siapa yang paling layak dipercaya," pungkasnya.

 


Perlu diketahui, dalam acara Media Gathering ini dihadiri pula Budi Santoso, Asisten Administrasi Umum Kabupaten Banyuwangi, Sigit Dwi Aryono Senior Manager Relation Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Senior Manager External Communication & Stakeholder Relations Pertamina Hulu Energi Fitri Erika, Kepala Divisi Program Komunikasi SKK Migas Heru Setyadi, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi (Forkom) Papua Maluku Pamalu Eko Ariawan Filipus, Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Koordinator Departemen Formalitas dan Komunikasi Dimas Ario, dan Perwakilan SKK Migas Kalimantan & Sulawesi, Relations Formalitas dan Komunikasi Mutiara Dinanti.

Editor :