klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Harga Telur di Sumenep Terjun Bebas, Peternak Terhimpit Kenaikan Pakan dan Ancaman Bangkrut

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
PEDAGANG : Tumpukan telur ayam dijual di Pasar Anom Baru Sumenep. Harga telur di tingkat peternak anjlok dalam sebulan terakhir, sementara biaya pakan terus meningkat. (doc. M.Hendra.E/Klikjatim.Com)
PEDAGANG : Tumpukan telur ayam dijual di Pasar Anom Baru Sumenep. Harga telur di tingkat peternak anjlok dalam sebulan terakhir, sementara biaya pakan terus meningkat. (doc. M.Hendra.E/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep – Kondisi peternak ayam petelur di Kabupaten Sumenep, Madura, kian tertekan akibat harga jual telur di tingkat peternak yang terus merosot dalam sebulan terakhir. Penurunan yang semakin tajam dalam dua pekan terakhir membuat para peternak kesulitan menutup biaya produksi yang justru terus melonjak.

Salah seorang peternak ayam petelur di Kecamatan Guluk-Guluk, Moh. Faiq, mengungkapkan bahwa harga telur saat ini telah menyentuh titik terendah. Telur yang dijual langsung dari kandang hanya dihargai sekitar Rp20.000 per kilogram. Sementara jika dipasarkan melalui pengepul, harganya merosot lagi menjadi Rp19.000 per kilogram.

"Sekarang ini telur di tingkat peternak dilepas dengan harga Rp20.000 per kg. Kalau lewat pengepul malah hanya Rp19.000 per kg. Biasanya kalau harga normal bisa mencapai Rp28.000 per kg," ujar Faiq, Selasa (7/7/2026).

Faiq menuturkan, penurunan harga tersebut mulai dirasakan sejak sebulan lalu dan kian merosot tajam dalam dua minggu terakhir hingga menggerus pendapatan peternak secara signifikan. Ia mengaku heran dengan kondisi pasar saat ini, sebab di saat harga telur anjlok, biaya operasional peternakan seperti pakan dan obat-obatan ayam justru bergerak sebaliknya.

Berdasarkan informasi di lapangan, harga pakan ayam mengalami kenaikan dari yang semula sekitar Rp410.000 kini telah mencapai Rp430.000 per zak. Ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual ini membuat usaha peternakan rakyat semakin sulit dipertahankan.

"Harga pakan dan obat-obatan makin mahal, tidak sebanding dengan harga telur. Ya tentu saja ini berat buat kami para peternak. Kalau terus-menerus seperti ini, kami bukan hanya merugi, tapi bisa gulung tikar," keluhnya.

Di tengah situasi yang menghimpit ini, Faiq berharap pemerintah maupun otoritas pasar dapat segera mengambil langkah untuk mengembalikan harga telur ke tingkat yang lebih wajar demi menyelamatkan nasib para peternak kecil.

"Saya cuma berharap harga telur ayam kembali normal seperti dulu, agar orang-orang seperti kami, para peternak kecil ini, bisa terus bertahan," harapnya.

Sementara itu, berdasarkan data resmi dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Sumenep, harga telur ayam di tingkat pasar tradisional saat ini terpantau masih berada pada kisaran Rp23.000 hingga Rp24.000 per kilogram.

Selisih angka tersebut menunjukkan adanya jarak yang cukup lebar antara harga riil yang diterima peternak di kandang dengan harga yang harus dibayar konsumen di pasar.

Editor :