klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Tahun Ajaran Baru Jadi Musim Panen Penjahit Seragam, Sukrianto Kebanjiran Pesanan di Jember

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Suasana di Trevira Tailor di Jember. Penjahit Seragam Banjir Pesanan Saat Tahun Ajaran Baru 2026-2027. (Hatta/Klikjatim.com)
Suasana di Trevira Tailor di Jember. Penjahit Seragam Banjir Pesanan Saat Tahun Ajaran Baru 2026-2027. (Hatta/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Jember – Tahun ajaran baru 2026/2027 membawa berkah bagi para penjahit seragam sekolah. Salah satunya dirasakan Sukrianto (74), pemilik Trevira Tailor di Jalan Kenanga, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, yang mengaku kebanjiran pesanan menjelang dimulainya kegiatan belajar mengajar.

Suara mesin jahit tak pernah berhenti terdengar dari tempat usahanya. Bersama lima orang penjahit, Sukrianto setiap hari menyelesaikan pesanan seragam sekolah yang datang dari berbagai wilayah di Jember.

Pria yang telah menggeluti profesi penjahit sejak 1969 itu mengatakan, tahun ajaran baru kini menjadi momen paling dinanti karena mampu mendongkrak pendapatan usahanya.

"Kalau yang diharapkan memang tahun ajaran baru. Kalau Lebaran sekarang biasa saja, seperti hari-hari biasa. Justru tahun ajaran baru ini yang ramai sekali," ujar Sukrianto, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, lonjakan pesanan tahun ini bahkan melebihi kapasitas produksi. Dalam sehari, timnya hanya mampu menyelesaikan sekitar delapan set seragam sekolah, sementara pesanan yang masuk terus bertambah.

"Kalau sekarang sampai ada yang ditolak karena pesanan terlalu banyak," katanya.

Mayoritas pesanan berasal dari siswa jenjang SMP dan SMA, sedangkan seragam SD umumnya berasal dari sekolah-sekolah yang telah menjadi pelanggan tetap. Bahkan, beberapa pesanan dalam jumlah besar sudah mulai dikerjakan sejak Februari dan selesai dikirim pada Mei lalu.

Berbekal pengalaman lebih dari lima dekade, Sukrianto melihat perubahan tren dalam usaha jahit. Jika dahulu momen Lebaran menjadi puncak permintaan, kini tahun ajaran baru justru menjadi periode paling sibuk.

"Lebaran sekarang seperti harian biasa. Kalau tahun ajaran baru memang yang paling ditunggu," tuturnya.

Di balik meningkatnya permintaan, Sukrianto juga menghadapi tantangan berupa naiknya harga bahan baku. Benang, ritsleting hingga kain keras untuk kerah seragam mengalami kenaikan harga.

"Semua bahan naik. Benang naik, ritsleting naik, kain keras juga naik. Dulu sekitar Rp21 ribu per meter, sekarang Rp27 ribu per meter," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuatnya menyesuaikan tarif jasa jahit. Ongkos pembuatan satu set seragam yang sebelumnya berkisar Rp170 ribu hingga Rp175 ribu kini menjadi sekitar Rp180 ribu per set. Meski demikian, pelanggan tetap berdatangan dan permintaan tidak mengalami penurunan.

Sukrianto bersyukur kepercayaan masyarakat terhadap hasil jahitannya tetap terjaga. Sebelum menetap di Jember dan membuka usaha pada 1983, ia sempat merintis usaha jahit di Jakarta.

Kini, di usia 74 tahun, keterampilannya masih menjadi pilihan banyak orang tua yang ingin menyiapkan seragam sekolah berkualitas bagi anak-anak mereka.

Bagi Sukrianto, tahun ajaran baru bukan hanya menghadirkan kesibukan, tetapi juga menjadi harapan agar usaha yang telah dirintis selama puluhan tahun tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

"Memang momen ini yang ditunggu-tunggu," ujarnya sambil kembali mengoperasikan mesin jahit yang setia menemaninya selama puluhan tahun.

Editor :