KLIKJATIM.Com | Jember – Jeritan krisis air bersih mulai menggema dari belahan selatan Jawa Timur. Sedikitnya ratusan kepala keluarga (KK) di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, kini terpaksa hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat bencana kekeringan ekstrem yang telah mencekik wilayah mereka selama dua bulan terakhir.
Memasuki puncak musim kemarau, sumur-sumur galian milik warga setempat dilaporkan mengering total. Sementara beberapa sumur yang masih menyisakan sedikit genangan, hanya menghasilkan air yang keruh, kotor, dan berbau menyengat sehingga sama sekali tidak layak dan berbahaya untuk dikonsumsi sehari-hari.
Kondisi nestapa ini paling parah dirasakan oleh sekitar 100 KK yang bermukim di lingkungan RT 003 RW 013, sebuah wilayah yang secara geografis berada dekat dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Akibat hilangnya sumber air di lingkungan domestik, warga kini harus bertaruh tenaga mencari pasokan air bersih ke titik lain yang berjarak cukup jauh dari rumah mereka.
Krisis Rutin yang Terabaikan
Ketua RT setempat, Insiana (43), memaparkan bahwa fenomena kekeringan ini sebenarnya merupakan persoalan klasik yang selalu berulang setiap tahun. Namun, yang membuat warga kecewa, pada musim kemarau tahun 2026 ini, mereka sama sekali belum menerima kiriman bantuan pasokan air bersih dari pemerintah daerah seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Sudah sekitar dua bulan ini kami tidak ada air. Kalau masuk musim kemarau memang selalu seperti ini. Sumur warga kering semua, ada yang kedalamannya 10 meter, 13 meter, sampai 16 meter, tapi tetap tidak ada air," urai perempuan yang akrab disapa Bu Yesi tersebut, Senin (29/6/2026).
Berbagai ikhtiar mandiri telah dicoba warga dengan memperdalam sumur galian mereka, namun usaha itu sia-sia lantaran cadangan air tanah di kawasan tersebut lenyap. Guna menyambung hidup, setiap hari warga harus mengangkut galon plastik bekas berkapasitas 15 liter menggunakan sepeda motor menuju area sekitar TPA Pakusari demi mendapatkan air untuk memasak. Sedangkan untuk keperluan MCK, warga terpaksa menempuh jarak satu kilometer menuju sungai di belakang Mapolsek Pakusari.
Keluhan senada disuarakan Hosna (65), lansia setempat yang sumur sedalam 12 meternya telah kering kerontang. Warga sangat berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember bisa segera menerjunkan armada dropping air bersih ke lokasi mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar beribadah dan rumah tangga.
BPBD Klaim Belum Terima Laporan Resmi
Padahal, Pemerintah Kabupaten Jember sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat kekeringan bertepatan dengan momen Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026. Berdasarkan rilis mitigasi dari BMKG, Jember diproyeksikan masuk kemarau sejak akhir April dengan puncak kekeringan pada Agustus mendatang.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menaruh atensi pada enam wilayah zona merah rawan kekeringan meliputi Kecamatan Tempurejo, Rambipuji, Tanggul, Patrang, Kalisat, dan Sumbersari. Sayangnya, Kecamatan Pakusari tampaknya luput dari radar prioritas dan pengawasan.
Pihak BPBD berdalih bahwa alokasi dropping air bersih baru bisa dikucurkan setelah melewati proses asesmen lapangan, namun hingga hari ini kondisi kritis yang menimpa warga Desa Sumber Pinang diklaim belum masuk dalam dokumen laporan resmi di meja BPBD.
"Kami belum mendapat laporan terkait kejadian kekeringan. Lebih lanjut kami akan berkoordinasi dengan pimpinan," ungkap salah seorang anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember yang enggan disebutkan namanya. Warga pun kini hanya bisa menanti respons cepat birokrasi sebelum krisis air ini berdampak lebih luas pada kesehatan masyarakat.
Editor : Fatih