Oleh: Dewi Musdalifah
EKOSISTEM seni rupa tidak lahir dari satu peristiwa. Ia tumbuh pelan, melalui kerja-kerja kecil yang sering luput dari perhatian, pertemuan yang tidak selalu ideal, dan keberanian untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan. Di titik inilah kerja kebudayaan berlangsung: merawat yang tumbuh, bukan sekadar merayakan yang sudah jadi.
Minggu, 19 April 2026, di Sualoka Hub, Jalan Kemasan, Gresik, suasana itu terasa hidup. Komunitas Power Art membuka pameran seni rupa ke-11 mereka bertajuk Randome. Pameran yang akan berlangsung selama satu bulan berakhir tanggal 16 Mei 2026.
Ruang ini tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan jejak proses panjang sejak 2017, bermula dari lingkungan pendidikan SMA Muhammadiyah 1 Gresik, dan terus bertahan hingga kini.
Pameran dihadiri oleh civitas akademika dan wali murid, komunitas seni rupa, serta penikmat seni lukis dari berbagai kalangan, menjadikannya ruang tatap antara pendidikan, praktik artistik, dan publik.
Power Art tidak pernah dirancang untuk mencapai satu bentuk akhir. Sejak awal, ia bergerak sebagai ruang belajar sekaligus ruang kerja. Gagasan diuji, emosi digarap, dan kemungkinan dibuka tanpa tuntutan untuk segera mapan. Dalam konteks sekolah, posisi ini tidak selalu mudah. Tarik-menarik antara pembelajaran formal dan dorongan ekspresi menciptakan batas.
Namun justru dari batas itu, cara bertahan terbentuk: menciptakan ruang sendiri, menjaga ritme produksi, dan berani menampilkan karya tanpa menunggu “siap”.
Pameran menjadi mekanisme uji dalam proses tersebut, ruang di mana karya berhadapan langsung dengan publik. Perkembangan komunitas ini dapat ditelusuri melalui jejak pameran sebelumnya: Berpacu dalam Emosi, Angkat Goreng Pamerkan, Siklus, hingga seri Nomaden yang menandai perpindahan gagasan dan medium. Setiap fase mencatat pergeseran, sekaligus memperlihatkan konsistensi dalam bergerak.
Pada pameran ke-11 ini, Randome hadir menggambarkan kondisi kerja yang memang terjadi. Ketakteraturan tidak diposisikan sebagai kekacauan, tetapi sebagai akumulasi, lapisan pengalaman yang tidak disederhanakan.
Sebanyak 16 perupa muda terlibat, seluruhnya masih berstatus pelajar: 8 siswa kelas 10, 7 siswa kelas 11, dan 1 siswa kelas 12—Ve, Piyo, Rynae, Naufal Al, Alsa, Imeow, Ivena, Lunna, Pridompel, Sunnie, Andana, Ravi, Nindya, Kiddie, dan Altha. Komposisi ini menunjukkan kesinambungan proses: dari fase eksplorasi awal, penguatan bahasa visual, hingga kedewasaan pengkaryaan.
Mereka bekerja di antara tuntutan sekolah dan dorongan kreatif yang tidak bisa ditunda, namun tetap berpijak pada konsep sebagai dasar pengkaryaan.
Karya “Endapan” milik Piyo menghadirkan permukaan gelap dengan tekstur yang nyaris terbakar. Di tengah tekanan visual itu, satu bunga putih muncul sebagai titik tahan, bukan hiasan, melainkan penanda bahwa sesuatu tetap bertahan. Kekuatan karya ini terletak pada materialitasnya, yang menggeser pengalaman visual menjadi pengalaman raba.
Sebaliknya, “A Hundred Stories” karya Ve bergerak dengan warna cerah dan elemen dekoratif yang bertumpuk tanpa pusat tunggal. Mata tidak diarahkan, melainkan dibiarkan menjelajah.
“Random” di sini menjadi cara menyusun keragaman.
Ketegangan hadir dalam “Crab Mentality” karya Sunnie. Seekor angsa putih berhias kemewahan dikepung tangan-tangan manusia di atas latar merah yang menekan. Relasi antara keindahan dan kekerasan dibangun secara langsung, tanpa jarak simbolik.
Di tengah intensitas itu, “Adydi & Sapi: Abduksi” karya Imeow menawarkan jeda. Visual yang ringan dan bermain membuka ruang bahwa dalam satu medan yang sama, kelonggaran tetap memiliki tempat.
Sementara “Dearest Cecilia” karya Kiddie bergerak lebih tenang. Figur dan elemen floral hadir dalam pendekatan ekspresif yang tidak berlebihan. Emosi tidak didorong ke puncak, tetapi memberi ruang pembacaan yang personal.
Keseluruhan karya dalam Randome tidak diarahkan menuju satu kesimpulan visual. Tidak ada gaya dominan atau tema tunggal yang mengikat. Setiap karya berdiri dari proses yang berbeda, namun tetap berada dalam satu medan kerja yang sama, menerima perbedaan sebagai bagian dari praktik.
Randome menegaskan satu hal: ekosistem seni tidak dibangun dari hasil akhir, melainkan dari keberlanjutan proses. Dari keberanian untuk tetap bergerak tanpa kepastian bentuk, dan dari kesediaan menerima ketakteraturan sebagai bagian yang utuh dari kerja.
Editor : Wahyudi