klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Protes Truk Pemicu Kecelakaan, Warga Puger Jember Ancam Blokade dan Tutup Pabrik Semen Imasco

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Akibat puluhan kecelakaan yang dipicu truk besar sejak 2023, warga di sejumlah desa di Jember ancam tutup operasional pabrik semen Imasco.
Akibat puluhan kecelakaan yang dipicu truk besar sejak 2023, warga di sejumlah desa di Jember ancam tutup operasional pabrik semen Imasco.

KLIKJATIM.Com | Jember – Ketegangan antara warga Kecamatan Puger dengan PT Semen Imasco Asiatic kembali mencapai titik didih. Warga dari sejumlah desa, meliputi Desa Grenden dan Desa Kasiyan Timur, mengancam akan melakukan penutupan paksa operasional pabrik jika tuntutan terkait pembatasan jam operasional truk bermuatan berat tidak segera dipatuhi.

Protes ini merupakan akumulasi kekecewaan warga yang merasa keselamatan nyawa mereka terancam akibat lalu-lalang truk raksasa yang telah memicu puluhan kecelakaan sejak tahun 2023.

Tokoh masyarakat Puger, Muhammad Suja’i, mengungkapkan bahwa warga sudah kehilangan kesabaran melihat kondisi lingkungan mereka. Kerusakan jalan yang parah di Dusun Sadengan menjadi pemicu awal kemarahan, ditambah dengan insiden kecelakaan yang terus berulang.

“Saya melihat langsung banyak pengendara jatuh, bahkan ada yang sampai terlindas. Korban sudah puluhan, kami sampai tidak tega menghitungnya. Jangan sampai keluarga kita sendiri jadi korban berikutnya,” tegas Suja’i saat dikonfirmasi di Jember, Kamis (16/4/2026).

Warga menyoroti ketidaksesuaian kelas jalan dengan beban kendaraan. Berdasarkan hasil hearing sebelumnya, jalan desa tersebut adalah kelas III dengan kapasitas maksimal 8 ton. Namun, di lapangan, truk dengan muatan hingga 30 ton masih bebas melintas.

Sebenarnya, telah ada kesepakatan yang lahir pada 28 April 2025 antara warga, pemerintah daerah, dan kepolisian. Dalam aturan tersebut, truk pabrik dilarang melintas pada pukul 06.00 hingga 16.00 WIB demi keamanan anak sekolah dan warga yang bekerja.

Namun, warga menilai komitmen tersebut sering dilanggar. Banyak truk nekat melintas di jam terlarang, bahkan diduga mendapatkan pengawalan khusus.

“Kalau tidak bisa dipatuhi, kami minta pabrik ditutup atau buat jalan sendiri. Jalan kampung ini bukan untuk kendaraan sebesar itu,” tambah Suja’i.

Selain faktor keselamatan, warga juga melaporkan adanya tekanan dan upaya adu domba di tengah masyarakat. Muhammad Arif, warga Sadengan Timur, menyebut adanya iming-iming tertentu kepada sebagian warga agar berhenti melakukan protes, yang justru memicu perpecahan sosial.

Arif juga menyoroti dampak ekonomi yang merugikan pengusaha lokal. Sebelum pabrik berdiri, terdapat sekitar 500-700 pelaku usaha pengolahan batu gamping, namun kini jumlahnya menyusut drastis hingga tersisa puluhan saja.

"Yang dijanjikan meningkatkan ekonomi, tapi yang dirasakan masyarakat justru sebaliknya. Banyak warga terpaksa merantau karena lapangan kerja di pabrik pun lebih banyak diisi tenaga kerja luar," ungkap Arif.

Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan belum memberikan pernyataan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui Humas PT Semen Imasco Asiatic, Fendy Sumarlin, belum mendapatkan respons baik melalui pesan singkat maupun panggilan telepon.

Warga menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan nyata dan penghormatan terhadap jam operasional, mereka tidak ragu untuk kembali melakukan blokade total jalan desa sebagai bentuk perjuangan terakhir.

Editor :