KLIKJATIM.Com | Jember – Lonjakan harga plastik yang mencapai 100 persen memaksa Pemerintah Kabupaten Jember untuk mengambil langkah strategis. Melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan, pemerintah mengimbau para pelaku UMKM dan masyarakat luas untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai dan beralih ke kemasan ramah lingkungan berbasis bahan alami.
Kebijakan ini diambil sebagai respons atas kondisi geopolitik global yang mengganggu rantai pasok bahan baku industri plastik nasional.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Jember, Sartini, menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku petrokimia seperti naphta menjadi penyebab utama melambungnya harga di tingkat lokal. Konflik di wilayah Timur Tengah telah menghambat pasokan bahan dasar tersebut, yang berdampak langsung pada biaya produksi plastik di Indonesia.
“Situasi global membuat bahan baku naphta menjadi sulit diperoleh. Dampaknya, harga plastik melonjak tajam hingga 100 persen. Karena itu, kami mengimbau masyarakat dan pelaku UMKM untuk kembali ke alam, memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar kita,” ujar Sartini, Selasa (14/4/2026).
Sebagai alternatif, pemerintah menyarankan penggunaan bahan tradisional seperti daun pisang, jati, atau kertas berbasis serat alami untuk kemasan produk makanan. Selain lebih ekonomis di tengah kenaikan harga, bahan-bahan ini dinilai jauh lebih sehat bagi lingkungan dan konsumen.
Langkah ini juga sejalan dengan Surat Edaran (SE) Bupati Jember yang merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengelolaan sampah. Sartini menekankan pentingnya mengelola sampah langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga dan tempat usaha.
Pemkab Jember juga mendorong masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, untuk mengolah sampah secara mandiri.
Dimana sampah organik diolah menjadi kompos melalui lubang biopori, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang oleh Dinas Perkim dan Lingkungan Hidup.
Adapun limbah spesifik seperti popok bayi, kini diarahkan untuk diolah menjadi maggot sebagai pakan ternak bernilai ekonomi.
“Kita bisa meniru praktik baik dari daerah lain seperti Bali yang sudah mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan. Harapannya, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi dampak ekonomi akibat kenaikan harga plastik, tetapi juga berkontribusi menekan pencemaran lingkungan,” pungkas Sartini.
Editor : Fatih