klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Jalan Usaha Tani Minim, Ribuan Hektare Lahan di Sumenep Terkendala Akses

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
Akses Jalan: Jalan usaha tani membelah area persawahan, menjadi akses vital bagi mobilitas petani dan distribusi hasil panen di wilayah pedesaan. (M.Hendra.E/Klikjatim.Com)
Akses Jalan: Jalan usaha tani membelah area persawahan, menjadi akses vital bagi mobilitas petani dan distribusi hasil panen di wilayah pedesaan. (M.Hendra.E/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep – Potensi sektor agraria di Kabupaten Sumenep tergolong sangat besar dengan total areal pertanian mencapai 131.308 hektare.

Namun, luasan lahan yang melimpah di wilayah paling timur Pulau Madura ini belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur Jalan Usaha Tani (JUT) yang memadai.

Keterbatasan akses jalan ini menjadi hambatan serius bagi mobilitas petani. Proses produksi hingga distribusi hasil panen seringkali terkendala karena kendaraan pengangkut sulit menjangkau kawasan pedesaan tertentu, yang pada akhirnya berimbas pada optimalisasi produktivitas pertanian daerah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, mengungkapkan bahwa pembangunan JUT sebenarnya merupakan agenda rutin tahunan. Pendanaan program ini biasanya bersumber dari APBN maupun APBD.

Namun, untuk tahun anggaran berjalan, pelaksanaan pembangunan JUT lebih banyak bersumber dari aspirasi anggota DPRD melalui skema Pokok Pikiran (Pokir).

"Lokasinya ditentukan oleh anggota dewan sesuai daerah pemilihannya masing-masing. Kalau JUT tetap ada, tapi jumlahnya sedikit. Itu merupakan pokir dewan," jelas Chainur Rasyid, Minggu (5/4).

Kondisi ini membuat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak memiliki kewenangan penuh dalam menentukan titik-titik prioritas pembangunan infrastruktur jalan tersebut secara merata di seluruh wilayah.

Selain kendala akses jalan, Chainur Rasyid menyebutkan adanya pergeseran arah kebijakan pertanian di Sumenep. Saat ini, pemerintah daerah tengah memprioritaskan program penyediaan sumber air guna mengatasi keterbatasan pasokan air di lahan persawahan dan ladang.

Langkah konkret yang diambil adalah dengan memperbanyak kegiatan pengeboran sumur di titik-titik yang membutuhkan.

"Untuk JUT sebenarnya sudah dimaksimalkan di tahun-tahun sebelumnya. Sekarang lebih difokuskan pada penyediaan air untuk pertanian," tandasnya.

Meskipun fokus dialihkan ke penyediaan air, para petani berharap pemerintah tetap memberikan perhatian pada akses jalan agar biaya logistik hasil panen tidak semakin membengkak akibat sulitnya medan transportasi.

Editor :