KLIKJATIM.Com | Jember – Kabar yang beredar mengenai rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjelang awal April memicu kepanikan warga di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sejak Selasa (31/3/2026), antrean kendaraan tampak mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), termasuk di sekitar kawasan Pasar Sabtuan. Warga berbondong-bondong mengisi BBM karena khawatir terjadi kenaikan harga maupun kelangkaan, meskipun pemerintah pusat telah memastikan tidak ada penyesuaian harga pada 1 April 2026.
Di lapangan, antrean terjadi hampir di semua jenis BBM, mulai dari Pertalite, Pertamax hingga Solar bersubsidi. Panjangnya antrean bahkan meluber hingga ke badan jalan dan menyebabkan perlambatan arus lalu lintas di sejumlah titik di Kota Jember.
Kondisi tersebut paling terlihat pada sore hingga malam hari, saat masyarakat pulang kerja dan memilih langsung mengisi bahan bakar.
Salah satu warga, Lucky Setiawan (34), mengaku terpaksa ikut mengantre meski dalam kondisi lelah sepulang kerja. Ia menilai kepanikan sulit dihindari karena informasi yang beredar tidak jelas dan cepat menyebar melalui media sosial.
“Saya baru pulang kerja, harusnya bisa langsung istirahat. Tapi karena dengar kabar BBM mau naik, akhirnya ikut antre. Ini buat jaga-jaga, takut besok malah lebih sulit,” ujarnya.
Ia menambahkan, antrean yang panjang cukup menguras waktu dan tenaga, namun kebutuhan BBM untuk aktivitas sehari-hari membuatnya tidak punya pilihan lain.
Fenomena serupa terjadi hampir merata di seluruh SPBU di wilayah Jember. Kepadatan meningkat seiring ramainya isu kenaikan harga BBM. Banyak warga memilih mengisi penuh tangki kendaraan, bahkan ada yang datang lebih dari sekali demi memastikan ketersediaan bahan bakar.
Menanggapi kondisi ini, Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Ia memastikan pemerintah pusat telah memutuskan tidak menaikkan harga BBM dalam waktu dekat.
“Saya bersyukur mendapat kabar bahwa kenaikan BBM dibatalkan. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang cukup ekstrem, ini menjadi kabar baik,” ujarnya usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jember.
Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah kondisi global yang tidak menentu.
“Kita tahu kondisi dunia sedang tidak baik. Harga energi naik turun. Tapi pemerintah hadir agar masyarakat tidak terbebani,” katanya.
Ia juga membandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara yang telah lebih dulu menaikkan harga BBM. Menurutnya, Indonesia saat ini menjadi satu-satunya negara di kawasan yang belum menaikkan harga sekaligus tidak mengalami kelangkaan.
Lebih lanjut, ia memastikan distribusi BBM tetap berjalan normal dan stok dalam kondisi aman. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembelian secara berlebihan.
“Distribusi dijaga dan stok aman. Tidak perlu membeli secara berlebihan,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui stok di lapangan bisa terganggu jika masyarakat melakukan panic buying. Oleh karena itu, ia mengimbau warga untuk tetap bijak, khususnya dalam penggunaan BBM bersubsidi.
“Kalau berkurang sedikit itu wajar. Tapi kalau panik dan beli berlebihan, itu justru membuat situasi tidak sehat,” ujarnya.
Ia pun menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga stabilitas pasokan energi. “Stok aman, tapi kalau tidak bijak, beban subsidi akan semakin besar,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Jember, lanjutnya, juga siap mengikuti arahan pemerintah pusat apabila diperlukan langkah-langkah lanjutan untuk mengendalikan situasi.
“Kami di daerah siap menjalankan instruksi pusat. Jika diperlukan kebijakan seperti WFH atau pembelajaran daring, kami siap menyesuaikan,” pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar