KLIKJATIM.Com | Surabaya - Suasana Kota Surabaya dipenuhi nuansa kebersamaan saat ratusan umat Hindu menggelar Pawai Seni Ogoh-Ogoh di area parkir Pura Segara, Rabu (18/3).
Meskipun langit mendung menyelimuti kota, antusiasme masyarakat tidak surut untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh yang sarat makna filosofis. Tradisi ini tidak hanya menampilkan kreativitas umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol berbagai sifat negatif yang perlu disucikan menjelang pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang agama turut memeriahkan pawai tersebut, mencerminkan kuatnya nilai toleransi yang terjaga di Kota Pahlawan.
Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Maria Theresia Ekawati Rahayu, menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan. Ia menyebut tradisi ini sebagai wujud kreativitas yang penuh makna, sekaligus simbol penyucian diri dan alam semesta dari pengaruh negatif sebelum menjalankan Catur Brata Penyepian.
Menurutnya, momentum ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk melakukan refleksi diri, terutama dalam mengendalikan sifat-sifat negatif seperti ego, iri hati, dan dengki. Ia menegaskan bahwa sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman, Surabaya terus berkomitmen menjaga toleransi, persatuan, dan keharmonisan di tengah perbedaan budaya maupun keyakinan.
Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Surabaya, Ketut Gotra Astika, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian Hari Raya Nyepi, mulai dari Melasti hingga Tawur Agung, berlangsung dengan lancar.
Ia menambahkan, segala hal yang berawal dari pikiran positif akan melahirkan perkataan dan tindakan positif, yang pada akhirnya membentuk karakter baik serta membawa kehidupan yang lebih harmonis.
Editor : Wahyudi