klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Status KLB Campak Sumenep Belum Dicabut, Dinkes Tunggu Dua Kali Masa Inkubasi

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri

KLIKJATIM.Com | Sumenep - Status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, masih belum bisa dinyatakan berakhir. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) setempat memastikan pencabutan status tersebut baru dapat dilakukan setelah seluruh tahapan masa inkubasi selesai dijalani.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri menjelaskan, bahwa saat ini pihaknya masih berada pada masa inkubasi pertama dari dua tahap yang harus dilalui.

“Sekarang baru hari ke-19 dari masa inkubasi pertama. Setelah itu, kami akan lanjutkan ke masa inkubasi kedua selama 21 hari lagi,” ujar Syamsuri, Senin (13/10).

Menurut dia, selama periode inkubasi pertama ini tim kesehatan terus melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di seluruh wilayah terdampak untuk memastikan tidak ada kasus baru maupun potensi penularan lanjutan.

“Sejauh ini kondisinya stabil, tidak ada lonjakan kasus maupun penyebaran baru. Data dari puskesmas dan rumah sakit juga sudah kami sinkronkan agar valid,” tambahnya.

Syamsuri menegaskan, bahwa secara umum tren kasus campak di Sumenep sudah menurun signifikan. Namun, prosedur resmi pencabutan status KLB tetap harus mengikuti standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Kalau dilihat dari lapangan, kasusnya sudah landai, bahkan tidak ada penambahan. Tapi kami tidak bisa langsung mencabut status KLB sebelum semua prosedur selesai,” tuturnya.

Ia menambahkan, meskipun sebagian besar puskesmas telah melaporkan kondisi yang terkendali, beberapa rumah sakit di wilayah tersebut masih merawat pasien dengan gejala menyerupai campak, meski bukan disebabkan oleh virus campak secara langsung.

“Pasien di rumah sakit ada, tapi rata-rata dengan komplikasi, bukan campak murni. Kami tetap lakukan pemantauan hingga masa inkubasi kedua selesai. Kalau tidak ada tambahan kasus, barulah KLB bisa dinyatakan berakhir,” jelasnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mempercepat program imunisasi campak massal di Kabupaten Sumenep. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, bahwa puluhan ribu anak ditargetkan mendapat vaksin campak dalam waktu dua minggu

.

“Target kita dua minggu selesai. Kalau program ini tuntas, indikator kasus campak di Sumenep akan turun drastis,” ujar Budi Gunadi saat meninjau penanganan KLB di Sumenep, Kamis (28/8/2025).

Ia menuturkan, pemerintah telah menyiapkan 11 ribu vial vaksin campak, di mana setiap vial dapat digunakan untuk sekitar delapan orang anak. Langkah itu, menurutnya, menjadi strategi utama dalam menekan laju penyebaran penyakit yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi tersebut.

“Campak bukan penyakit ringan. Dalam kasus tertentu bisa berakibat fatal, jadi imunisasi massal adalah langkah paling efektif,” tegasnya.

Selain itu, Menkes juga mengumumkan rencana pembangunan laboratorium diagnosis campak di wilayah Madura. Laboratorium ini diharapkan dapat mempercepat deteksi kasus tanpa harus mengirim sampel ke Surabaya.

“Saya ingin pastikan ada satu lab di Madura. Jadi kalau ada indikasi campak, tidak perlu kirim jauh-jauh ke Surabaya,” ujarnya.

Budi menekankan, dengan adanya laboratorium lokal, proses pemeriksaan spesimen bisa dilakukan dengan lebih cepat. 

Jika ditemukan satu kasus positif, seluruh anak di wilayah kecamatan tersebut akan langsung mendapatkan imunisasi lanjutan sebagai langkah pencegahan dini. (ris

Editor :