KLIKJATIM.Com | Jombang - Pengusaha penggilingan padi sekaligus Ketua Perpadi (Perkumpulan Pengusaha Padi dan Beras) Jawa Timur, Hendra Tan mengungkapkan jika petani padi khususnya di Kabupaten Jombang tak perlu khawatir.
Pasalnya Perpadi akan turut menjaga harga gabah milik petani agar sesuai dengan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dengan siap membeli dengan harga yang kompetitif.
Handra Tan mengatakan jika saat ini pihaknya telah menyerap gabah kering panen (GKP) yang kemudian untuk digiling di gudang miliknya, dengan harga Rp6.200 hingga Rp6.300 per kilogram.
"Kami siap menyerap gabah padi membeli sebanyak-banyaknya kalau sampai hari ini di harga Rp 6.200- 6.300 per kilogram. Jadi petani tidak perlu khawatir lagi," kata Hendra Tan saat ditemui, Rabu 1 Mei 2024.
Terkait dengan keadaan jual beli gabah padi di Kabupaten Jombang, jika petani mendapatkan tawaran pembelian dibawah dari harga standar, maka ia menyarankan untuk membawanya ke tempat penggilingan.
"Kami ingin memastikan bahwa petani mendapatkan harga yang layak atas hasil kerja keras mereka, sebaiknya dijual ditempat penggilingan," ujarnya.
Selain itu menurut Hendra Tan beberapa anggotanya juga melakukan pembelian secara jemput bola langsung kepada petani, namun jika terjadi kondisi lain dapat melakukan koordinasi dengan Perpadi.
Baca juga: Pemerintah Naikkan HPP Jadi Angin Segar Petani, Begini Kondisi Jual Beli Gabah Padi di Jombang"Bisa dikoordinasikan dengan Perpadi Jawa Timur atau di Jombang, sehingga kita akan turut memberikan bantuan untuk yang tidak mempunyai fasilitas jemput bola," jelasnya.
Menurut Hendra dalam kondisi panen masa tanam pertama di Jombang, kualitas gabah padinya dapat dikatakan bagus meskipun kondisi cuaca hujan lebat hingga mengalami rubuh pada beberapa waktu lalu.
Namun dalam kondisi tersebut, sebagaimana yang dialami mitra petani dengan perusahaan penggilingan padi miliknya, pada luasan total 1200 hektar mendapat penanganan cepat sehingga padi berkualitas masih dapat dihasilkan.
"Memang sebelum lebaran kami beli di harga Rp5.900, dua hari kemudian pemerintah ada kebijakan fleksibiltasnya GKP dari harga Rp5.000 ke Rp6.000. Dan anggota Perpadi juga langsung menaikkan," terangnya.
Namun demikian terkait dengan kompetitifnya harga gabah padi yang mempunyai perbedaan di sejumlah wilayah dinilai wajar, namun secara umum tidak terjadi perbedaan yang terlampau banyak.
"Seperti kalau lewat tengkulak ada margin harga sendiri. Tengkulak jika pada musim panen juga akan kompetitif ketat, namun margin kotornya sekitaran Rp200 - 300," tambahnya.
Kemudian untuk padi yang masih akan dilakukan panen, Perpadi berharap semua pihak dapat menjaga harga tetap sesuai dengan kenaikan HPP minimal di harga Rp 6.000 dan petani mendapatkan harga terbaik.
"Ini penting untuk memastikan minat petani tetap tinggi dalam menanam padi, yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi seluruh masyarakat Indonesia," pungkasnya. (qom)
Editor : Diana