KLIKJATIM.Com | Jakarta - Dampak ekonomi yang dihasilkan dari pembangunan Smelter Freeport di Kabupaten Gresik mencapai Rp2 Triliun, yang berputar kepada pelaku usaha kecil (UMKM) setempat.
Hal tersebut disampaikan Vice President Government Relation & Smelter Technical Support PT Freeport Indonesia Harry Pancasakti, dalam dialog tentang ekonomi hijau bersama PWI Kabupaten Gresik pada 19 Februari lalu di Jakarta.
Perputaran ekonomi atau Multiplier Effect senilai Rp2 triliun itu khusus bidang services. Seperti katering, angkutan pekerja, penginapan pekerja, jasa kebersihan, perusahaan penyalur tenaga kerja, hingga ATK (Alat Tulis Kantor).
Menurut Herry, nilai sebesar itu meliputi 1.600 kontrak dengan perusahaan kecil lokal di Gresik maupun Jawa Timur, berdasarkan data hingga akhir Januari 2024.
"Perusahaan-perusahaan tersebut bukan perusahaan besar, tapi seperti CV, yang tergolong usaha kecil menengah," terang Harry.
Baca juga: Gaji Besar, Ada 5 Lowongan Kerja di PT Freeport Indonesia Penempatan Smelter Manyar Gresik dan Papua Hingga 11 Februari 2024Dikatakan, hal ini wujud komitmen PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk sebanyak - banyaknya melibatkan masyarakat setempat. Tak terkecuali pekerja kontruksi smelter.
"Kami dorong kepada Kontraktor kami untuk menggandeng pelaku usaha di Gresik dan Jawa Timur," ungkap Harry.
Tak hanya itu, dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan selama proses pembangunan smelter, PTFI menggandeng Yayasan Takmir Masjid Manyar (Yatamam) dalam mengelola sampah, seperti equipment mesin yang dibeli dari luar negeri dan sebagainya.
"Di situ equipment-nya ada kayu, kardus, besi bisa diolah dan dijual lagi. Tanah milik Yatamam pun kami sewa untuk tempat yang diberi nama Pusat Transformasi Bersama (PTB)," tutur Harry.
Hingga akhir Desember 2023, PTFI telah menyerap capex hingga Rp48 triliun untuk pembangunan Smelter. Ditargetkan akhir 2024 sudah mulai komisioning. (qom)
Editor : Abdul Aziz Qomar