klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Sumpek dengan Sampah Puntung Rokok, Bhre Otes Bikin Lukisan Unik

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Gresik — Bhre Bhawana Praja Kawula (10) dengan renyah menceritakan proses kreatifnya melukis dengan bahan gabus filter rokok. 

Siswa SDN 5 Pacar Keling Surabaya ini menemukan cara melukis yang unik, tidak lagi menggunakan pewarna untuk painting, namun filter rokok bekas yang telah dikupas kertasnya disusun rapi diatas kanvas yang mengahasilkan visual.

"Awalnya saya ikut kompetisi pangeran lingkungan, nah itu disuruh untuk mencaribcara memanfaatkan sampah yang menganggu lingkungan agar bisa dimanfaatkan," cerita anak berkacamata itu dalam Pameran lukisan yang diselenggarakan Sanggar Daun, dalam rangka memperingati Bulan menggambar, di Galeri Icon Mall, Sabtu (21/05/2022).

Berangkat dari hal itu, dia kemudian terpikir untuk mengumpulkan filter dari puntung rokok yang banyak tercecer disekitar lingkungan rumahnya.

Bhre kemudian punya ide untuk menyusun puntung rokok menjadi bentuk obyek seni rupa yang enak dipandang.

"Biar ndak bosan, masak melukis pakai pensil atau cat terus," bebernya.

Dibantu orang tuanya, Bhre kemudian mengumpulkan banyak puntung rokok yang dibuang sembarangan, kemudia direndam pakai cuka dan garam selam 24 jam.

"Setelah kering dicuci lagi dengan pewangi, baru dpakai (melukis)," urainya.

Karya lukisnya pun masih soal tema lingkungan, salah satunya obyek pohon yang dahan dan batang pohonnya digambar dengan pensil, sedangkan dedaunannya dibentuk dengan susunan puntung rokok.

"Nah itu maknanya kebiasaan kita buang sampah sembarangan bisa merusak alam, termasuk pohon, puntung rokok bisa bertahan 5 tahun baru hancur kalau dibuang sembarangan," ujarnya.

Atas idenya tersebut, Bhre mendapatkan julukan sebagai Bhre Otes, dimana kata Otes merupakan kata Suroboyoan untuk menyebut puntung rokok yang habis atau dimatikan dalam asbak.

"Sekarang sudah ada 20 lukisan, itu menghabiskan 20 ribu puntung rokok," katanya.

Sementara itu Pendiri dan Pembina Utama Sanggar Daun, Arik S. Wartono menyebut, anak-anak yang belajar melukis bersama di Sanggar Daun dibekali cara menggali dan menemukan ide.

"Sanggar daun adalah lembaga atau komunitas yang berusaha membangun infrastruktur gagasan," beber Arik.

Hal itu menurut Arik, karena bila yang dibangun gagasannya maka outputnya adalah teknik dan karya.

"Sehingga anak-anak bisa mempelajari teknik dan mecari medium dan bahan karya sesuai gagasannya, kalau fokusnya ke teknik maka hanya seperti tukang. Kalau yang dibangun gagasannya maka kena semua," katanya menjelaskan.

Maka dari itu, sambung Arik, karya yang dipamerkan di Galeri Icon Mall kali ini medium dan bahannya unik-unik, seperti karya milik Bhre Otes.

"Kembali lagi itu berkat gagasannya dibangun dulu," imbuhnya.

Dalam pameran lukisan untuk memperingati bulan menggambar itu, Sanggar Daun menampilkan 65 Karya hasil dari 27 Anak usia 5-22 tahun. (yud)

Editor :