KLIKJATIM.Com | Gresik—Pasar Sidayu yang terbakar pada Minggu (30/1/2022) mempunyai sejarah panjang bagi warga sekitar. Bahkan letak pasar yang berada di Desa Mriyunan itu merupakan jejak peradaban Kadipaten Sidayu.
Menurut Eko Jarwanto, penulis buku Sidajoe: Dari Kadipaten Menjadi Kawedanan mengatakan, Pasar Sidayu sudah terbentuk selama ratusan tahun. Bangunan pasar berdiri seiring dengan perpindahan pusat kadipaten dari Sidayu Lawas di Kabupaten Lamongan menuju Sidayu yang kini secara administratif bagian dari Kabupaten Gresik pada tahun 1700-an.
“Menurut dugaan awal, titik posisi pasar awalnya ada di sisi selatan lapangan Alun-alun Sidayu, kemudian pada awal 1900 dipindah atau digeser ke sisi timur yang sekarang ini. Namun demikian, pasar yang kecil juga ada di sisi utara, di kampung Sedagaran,” terangnya kepada klikjatim.com.
“Jadi pasar yang terbakar itu hasil penempatan atau pergeseran awal tahun 1900,” kata sarjana lulusan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Menurut pendapat Eko, di Sidayu banyak temuan bangunan gaya kolonial. Bangunan itu dibangun mulai akhir abad 19 sampai 20. Sebagian tentu dapat dimasukkan dalam kategori cagar budaya.
“Namun untuk pasar masih perlu kajian lagi, karena strukturnya sudah banyak perubahan, atau tidak asli,” katanya.
[caption id="attachment_96788" align="aligncenter" width="776"]
Tampak bangunan bercorak kolonial yang terbakar di Pasar Sidayu Gresik disebut bagian dari cagar budaya.(Faiz/klikjatim.com)[/caption]
Meski ada renovasi bangunan pasar, tentu keberadaan pasar Sidayu, kata Eko, tetap menjadi salah satu simbol keberadaan sebuah kota masa lampau. Selain itu juga sebagai jejak peradaban Kadipaten Sidayu sejak abad ke-18 sampai hari ini.
“Karena Pasar Sidayu tersebut merupakan bagian tata kota berpola kuno, di mana ada pendopo kadipaten yang dulu ada di sisi utara, masjid yang di sisi barat, pada sisi timur tempat patih dan asisten residen, lalu selatan tempat pasarnya. Dengan di tengahnya ada alun-alunnya bisa dilihat di peta tahun 1866 Kota Sidayu. Sisi timur alun-alun masih berupa gedung-gedung pemerintahan atau kantor milik asisten residen,” paparnya.
Secara pribadi, Joko prihatin dengan insiden musibah kebakaran ini.
“Bagi masyarakat Sidayu, tentu saya prihatin terhadap musibah dan berharap geliat ekonomi segera berjalan pulih kembali,” harapnya.
Diberitakan sebelumnya, Pasar Sidayu terbakar pada Minggu (31/1/2022) sekitar pukul 04.00 WIB. Dari 527 lapak milik pedagang, 259 di antaranya ludes terbakar. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian materialnya diperkirakan mencapai Rp 7 miliar.
“Untuk penyebab belum dipastikan, dan masih menunggu laporan dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim,” kata Kapolsek Sidayu Iptu Khairul Al.(mkr)
Editor : Redaksi