KLIKJATIM.Com | Gresik — Aeshnina Azzahra Aqilani Siswi kelas 3 SMPN 12 Gresik di Wringinanom menjadi daya tarik dunia. Pasalnya anak perempuan Prigi Arisandi itu mengikuti serangkaian acara peduli lingkungan di beberapa dunia.
[irp]
Nina bertekad untuk mengusir penjajahan baru berupa pengiriman sampah plastik dari negara maju ke negara berkembang.
“Melihat fakta di Sekitar tempat tinggalnya yang menjadi tempat sampah plastik Impor membuat Nina tergerak untuk beraksi, apalagi setelah tahu proses daur ulang sampah plastik impor menyebabkan pencemaran mikroplastik dan kontaminasi dioksi,” ucapnya, Sabtu (27/11 /2021).
Terhitung sejak 28 Oktober 2021 Nina meninggalkan Indonesia untuk menghadiri dua event pertama Plastic health summit di Amsterdam dan kedua menghadiri UN Climate Chane Conference of the Parties (COP 26) atau konferensi para pihak perubahan Iklim di Glasgow Skotlandia.
“Saya senang Sekali bisa bertemu dengan Luisa Marie Neubauer seorang aktivis iklim Jerman,” Ungkap Aeshnina.
Nina menjelaskan, Luisa adalah salah satu penyelenggara School Strike for Climate (Pemogokan sekolah untuk gerakan iklim) di Jerman, nama lain kegiatan ini adalah Fridays for Future.
Suatu gerakan internasional siswa sekolah yang bolos kelas Jumat untuk berpartisipasi dalam demonstrasi menuntut tindakan dari para pemimpin politik untuk mencegah perubahan iklim. Luisa Marie Neubauer sangat mendukung Dan bersimpati atas perjuangan yang dilakukan Nina.
“Saya akan mendukung perjuangan Nina dengan mendorong Pemerintah Jerman untuk menghentikan ekspor sampah plastik ke Indonesia, untuk menuju keadilan iklim,” ujar Luisa Marie Neubauer saat bertemu Nina.
Dengan mengantisipasi dingin Nina selalu menggunakan jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan, topi, syal dan baju rangkap-rangkap. Dalam kesempatan ini Nina didaulat untuk menceritakan perjuangan Nina dalam menolak impor sampah dari negara maju ke negara berkembang.
”Saya akan terus berjuang agar sampah plastik impor dari negara maju tidak masuk lagi ke negara berkembang termasuk Indonesia, karena setiap anak memiliki hak katas lingkungan yang sehat,” ujar Nina.
Disamping itu, Nina juga mengajak anak muda agar tidak takut menyuarakan hak nya atas keadilan iklim.
Nina dipertemukan oleh Francisco Vera, aktivis cilik anti pembakaran hutan Kolombia. “Saya kagum dengan perjuangan Francisco yang berani meskipun banyak mendapat ancaman dari perusahaan perusak hutan di Kolombia yang memulai menjadi aktivis sejak umur 9 tahun, dia anak yang nggemesin dan lucu,” ungkap Nina.
Nina juga mengikuti beberapa aksi menolak sachet bersama Breakfreefromplastic bersama beberapa aktivis dari Inggris,Delphine Levi Alvares Koordinator Breakfreefromplastic Eropa (Belgia), Amerika Serikat, India, Betty Osei Bonsu Koordinator Green Africa Youth (Ghana), Desmond Alugnoa, Global Allliance for Incinerator Alternatives Afrika (Ghana), Eduardo Giesen Amtman (Chile).
Diketahui, prroblem sampah plastik yang diimpor Indonesia menimbulkan masalah serius pada kerusakan sungai akibat mikroplastik, kepunahan jenis ikan akibat bahan kimia dala proses daur ulang dan kontaminasi senyara beracun dioksin akibat pembakaran plastik. Indonesia setiap tahun mengimpor tak kurang dari 3 Juta Ton sampah kertas yang didalamnya terkontaminasi atau secara sengaja di selundupkan sampah plastik rumah tangga dari 50 negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Perancis, Australia, Kanada dan Jepang. Dalam proses daurulang di Indonesia sampah-sampah plastik ini diproses dengan sembarangan yang mengakibatkan pencemaran air sungai Brantas, Citarum, Kali Surabaya dan Kali Porong.
“Industri kertas pengimpor sampah kertas memproses sampah dan membuang limbah melebihi baku mutu dan akhirnya mencemari sungai-sungai penting di Jawa seperti Brantas dan Citarum, 80% ikan-ikan di Brantas mengandung Mikroplastik,” Ungkap Eka Chlara Budiarti. peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).
Ia menambahkan plastik-plastik multilayer seperti sachet dan tas kresek yang tidak bisa didaur ulang pada akhirnya dibakar dan menimbulkan peningkatan kadar dioksin di udara dan diketahui mengkontaminasi telur ikan di Mojokerto, Sidoarjo, Jombang, Bekasi dan Karawang yang menjadi sentra pembakaran plastik sampah impor.
Dari fakta inilah kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh impor sampah plastik, Aeshnina Azzahra aqilani Siswi kelas 3 SMPN 12 Gresik di Wringinanom akhirnya menuliskan surat protes kepada pemimpin negara-negara pengekspor seperti Donald Trump, Angela Markel,
“Saya menulis surat kepada pemimpin negaraa pengeskpor sampah agar mereka menghentikan pengiriman sampah ke Indonesia,” jelas Nina.(mkr)
Editor : Redaksi