klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Misteri Malam 1 Suro, Ritual hingga Pantangannya

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Tahun baru Hijriah 1 Muharram 1443 jatuh pada 10 Agustus 2021 besok. Dalam kalender Jawa, pada malam sebelum tanggal tersebut dikenal sebagai malam 1 Suro, yang oleh sebagian masyarakat dilekatkan dengan malam sakral atau keramat.

[irp]

Banyak mitos-mitos yang beredar di sebagian masyarakat seputar pantangan melakukan aktivitas tertentu di bulan Suro karena dianggap ra ilok, pamali. Beberapa kegiatan, misalnya mengadakan pernikahan atau membangun rumah pantang untuk dilakukan bagi sebagian orang Jawa yang mempercayainya.

Bahkan, di beberapa daerah pula, bermacam ritual dalam menyambut 1 Suro dilakukan. Contohnya, beberapa kalangan masyarakat mengadakan padusan, yakni mandi bersama di sungai sebagai cara untuk 'membersihkan diri' dari aura negatif dan bersiap untuk tahun yang baru.

Seorang staf pengajar jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran, Widyo Nugrahanto mengatakan, bahwa tiap awal Suro, orang Jawa sering melakukan sejumlah hal yang oleh masyarakat zaman sekarang dianggap mistis. Misalnya kegiatan memandikan pusaka, seperti keris atau tombak.

Selain itu, ada juga sebagian yang menyambut tahun baru Jawa itu dengan mengadakan berbagai ritual, baik pribadi maupun umum. Ritual umum ini biasanya dimulai oleh pihak keraton. Hal itu sudah dilakukan sejak zaman pemerintahan Sultan Agung di Mataram.

Menurut Anto, panggilan akrab Widyo Nugrahanto, ritual semacam itu sebenarnya dilakukan untuk menyambut tahun baru Jawa dan berbagai upacara adat yang dilakukan itu ditujukan untuk Sang Pencipta. Ia melanjutkan, banyak ritual yang sebenarnya ditujukan untuk penghormatan kepada Tuhan yang dianggap sebagai upacara hantu-hantuan.

Misalnya saja perihal kemenyan. Orang Jawa dulu menggunakan kemenyan atau hio sebagai pengharum ruangan atau sebagai penguat konsentrasi ketika bermeditasi. Namun, saat ini oleh masyarakat diasosiasikan dengan hal negatif, semisal alat pemanggil hantu.

"Masyarakat modern kan lebih berbudaya, yang sifatnya rasional. Sehingga, mereka memandang, hal-hal yang sifatnya kepercayaan lokal berhubungan dengan mistis, karena dianggap tidak rasional. Semua yang berbau kepercayaan lokal dianggap seram dan mistis. Jadi, dibuatlah film. Agar laku, ya pasti pakai sesuatu yang dipercaya atau beredar di masyarakat," beber Anto seperti mengutip Alinea.id.

Padahal menurutnya, ritual di keraton merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Sultan Agung menjadi raja Jawa pertama yang berhasil memadukan kalender Jawa dengan kalender Islam sehingga muncullah budaya baru, salah satunya tercermin dalam berbagai kegiatan tiap tanggal 1 Suro.

Masyarakat zaman sekarang, menurutnya, telah berhasil digiring oleh sebuah opini yang menjadikan berbagai ritual yang dilakukan pada satu Suro sebagai ritual mistis dan sesat. Hal itulah yang membuat malam satu Suro kini dianggap sebagai malam yang penuh dengan nuansa mistis yang menyeramkan.

Sementara mengutip dari sumber lain, nama Suro sendiri diciptakan oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645) sejak kerajaan Mataram Islam. Konon, kalender Saka (kalender Jawa dan Hindu) ingin diubah oleh Sultan dengan tujuan untuk bisa sepadan dengan penanggalan Islam.

Di balik itu, Sultan juga ingin menyatukan dua kubu masyarakat Jawa yang terpecah akibat berbeda keyakinan, yakni penganut Kejawen (kepercayaan orang Jawa dengan Putihan (Kepercayaan Islam).

Kini, malam 1 suro dipercaya sebagai datangnya Aji Saka ke Pulau Jawa yang dapat membebaskan rakyat dari genggaman makhluk gaib. Masyarakat Jawa khususnya Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, dan Kasepuhan Cirebon tak akan melewatkan ritual rutinnya setiap tahun untuk memperingati malam yang sakral itu.

Mengelilingi benteng keraton, memandikan benda-benda pusaka, berendam di kali, mandi kembang, dan mengarak kerbau bule merupakan beberapa ritual yang dilakukan dan dianggap membawa keberkahan pada malam 1 suro.

Bukan hanya dipercaya membawa berkah, malam 1 suro juga dianggap membawa sial bagi mereka yang melanggar pantangan menurut kepercayaan setempat. Berikut beberapa hal misteri yang dipercaya pada 1 Suro yang sudah dirangkum klikjatim.com dari berbagai sumber :

1. Mengadakan pesta pernikahanBudaya Jawa sangat memantang jika orang tua menikahkan anaknya pada bulan Suro. Kepercayaan mereka mengatakan jika tetap dilakukan, keluarga akan mendapat kesialan. 

Beberapa mengatakan ini hanyalah mitos belaka. Alasanya, jika masyarakat mengadakan pesta pada malam Suro, ini dianggap akan menyaingi ritual keraton yang akan dirasa sepi.  Selain pesta pernikahan, pesta-pesta lainnya seperti sunatan dan lainnya juga dilarang. Sampai sekarang, mitos ini masih dipercaya oleh masyarakat Jawa.

2. Tak boleh keluar rumahSaat malam 1 suro, masyarakat Jawa percaya lebih baik berdiam diri di rumah. Karena jika pergi keluar, kesialan dan hal buruk bisa saja menimpa

3. Melakukan pindah rumahMenurut Primbon orang Jawa, ada yang disebut hari baik dan ada pula hari buruk. Sebagian orang percaya untuk tidak melakukan pindahan rumah saat malam satu suro karena dianggap bukan hari baik. Sedangkan menurut agama Islam, semua hari adalah baik. 

4. Tak boleh berbicaraBeberapa orang memilih untuk melakukan ritual masing-masing saat 1 Suro. Beberapa orang di antaranya adalah tapa bisu. Saat mengikuti ritual tapa bisu, yakni mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta sangat dipantang untuk berbicara satu kata pun. Makan, minum serta merokok juga sangat dilarang untuk dilakukan saat ritual tersebut. 

Di Indonesia, memang ada berbagai banyak cara yang dilakukan untuk memperingati 1 Muharam atau 1 Suro, misalnya seperti berdoa dan menyantuni anak yatim. Ada pula yang melakukan pawai obor di beberapa daerah dan di masyarakat Jawa merayakan ritual malam 1 Suro.

Hal ini tentunya menandakan beragam budaya dan adat tradisi yang dimiliki Indonesia masih digenggam erat oleh masyarakat. Hanya saja, hal yang tak boleh dilewatkan pada Tahun Baru Islam atau 1 Muharram adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dibanding percaya dengan mitos 1 suro.(mkr)

Editor :