klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Pemasangan Bendera Putih di Sentra Kerajinan Kulit Tanggulangin, Ketua Intako Angkat Bicara

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Bendera putih berkisar di kawasan industri Tanggulangin
Bendera putih berkisar di kawasan industri Tanggulangin

KLIKJATIM.Com I Sidoarjo – Sejumlah perajin kulit di Kecamatan Tanggulangin memasang bendera putih di Jalan Raya Kludan, Kecamatan Tanggulangin pada Hari Sabtu, (7/8) siang. Pemasangan bendera putih tersebut dilakukan karena usaha mereka sepi pembeli.

[irp]

Ketua koperasi Industri Tas dan Koper (Intako), Syaroni Arief membenarkan pemasangan bendera putih tersebut. Ditemui di kantor Intako, di Desa Kedensari, Kecamatan Tanggulangin, Senin (9/8/2021), Ia menuturkan, pemasangan bendera putih tersebut merupakan inisiatif para perajin yang mengeluh karena sepinya pembeli yang datang dan berhentinya omzet.

“Awalnya, kami berencana memasang seribu bendera putih dari pintu masuk Jalan Raya Kludan hingga koperasi Intako sepanjang kurang lebih dua kilometer. Bahan kain dan tiangnya  hasil patungan para perajin di sini,” terangnya.  Namun baru saja bendera terpasang, terpaksa kembali diturunkan.

“Bendera putih tersebut  adalah kondisi kami, para perajin kulit saat ini telah menyerah. Setelah pandemi pada awal tahun 2020 lalu, sangat sedikit pembeli yang datang. Dulu masih ada pembeli dari luar kota. Namun semenjak adanya PPKM, otomatis pembeli berhenti. Karena mereka tidak bisa masuk ke Sidoarjo. Apalagi PPKM terus diperpanjang,” keluhnya.

Di sentra industri produk kulit yang tersebar di Desa Kludan dan Kedensari, Kecamatan Tanggulangin, terdapat sekitar 450 perajin. Sebanyak 250 diantaranya menjadi angota Intako.

Syaroni melanjutkan, dampak pandemi dan PPKM dirasakan sangat dasyat. Sejak tanggal 3 Juli 2020, di awal penerapan PPKM hingga awal Agustus, Intako terpaksa tutup dan baru hari ini buka kembali. “Pada Bulan Juli 2021, pengurus dan karyawan Intako yang berjumlah 40 orang belum mendapatkan gaji. Kami tidak mampu membayar mereka karena memang tidak ada pemasukan,” ucapnya.

Belum lagi, imbuh Syaroni, bunga pinjaman yang harus dibayarkan ke bank. “Kami telah mengajukan kelonggaran membayar bunga. Kondisi kami saat ini benar-benar terpuruk. Kami berharap perhatian dan pertolongan dari pemerintah Kubupaten Sidoarjo. Kami tentu saja mendukung aturan pemerintah, namun kondisi usaha para perajin telah menyerah,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali, saat ditemui di Pendapa Delta Wibawa mengatakan. Kondisi pandemi memang dirasakan semua sektor, termasuk UMKM. “Yang terpenting sekarang ini adalah kekompakan. Semuanya kompak agar pandemi ini segera berakhir. Kalau menurut saya, pengibaran bendera putih tersebut banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya,” tegas Gus Muhdlor. (bro)

Editor :