klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Di Jatim, Marak Jual Beli Akun Driver Gojek

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi : Driver ojek online di Surabaya sedang menunggu penumpang. (Niam Kurniawan/klikjatim.com)
Ilustrasi : Driver ojek online di Surabaya sedang menunggu penumpang. (Niam Kurniawan/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya--Bekerja sebagai driver ojek online (ojol) ternyata banyak paminatnya. Saking banyaknya peminat, bahkan ada yang rela merogoh kocek jutaan rupiah hanya untuk membeli akun.

Jual beli akun driver ojek online itu disebabkan perusahaan ojek online membatasi pendaftaran driver baru. Demi bisa bekerja, mereka yang tak bisa mendaftar membeli akun dari driver ojek lainnya.

DM salah satu Driver Ojol di Surabaya pun membenarkan hal tersebut, dirinya mengaku di Surabaya hal seperti itu merupakan hal yang biasa. Bahkan akun bodong tersebut jika di surabaya bisa diperjual belikan hingga kelipatan Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Tergantung dari lama dan poin yang telah di dapatkan dari akun tersebut

[irp]

"Surabaya biasa seperti itu, jual beli akun bodong. Nggak tanggung-tanggung kisaran sampe berapa juta gitu," kata dirver dari perusahaan Gojek itu.

Pria yang tinggal di Bulak Jaya, Semampir, Surabaya, itu pun mengatakan, bahkan di beberapa kali saat menerima penumpang, dirinya pernah mendapat keluhan dari penumpangnya yang pernah menemui pengendara ojol yang tidak sesuai dengan identitas dan nomer plat yang menjemputnya.

"Banyak pelanggan yang komplain," tegasnya.

[irp]

Namun terkait jual beli akun tersebut, dirinya mengaku tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia lebih menekankan bahwa pihak ojol lebih tegas dalam membantu untuk menindak tegas orderan siluman yang sering menjadi keluhan para driver ojol, yang rata-rata order siluman tersebut banyak dialami saat pemesanan makanan.

"Aku sih gak terlalu mikir itu mas, permasalahannya itu orderan yang dibatalkan itu loh. Pernah kapan hari ada pesenan makanan. Pas tengah-tengah proses tiba-tiba batal," imbuhnya.

Driver Gojek lainnya, FZ (27) juga membenarkan adanya jual beli akun tersebut. Pria yang mulai bekerja di Gojek sejak 2019 itu mengaku pernah mengetahui temannya menjual akun tersebut.

"Dijual Rp 2,5 juta seingat saya," ujarnya.

Namun, lanjut FZ, dia mengaku tidak terlibat dalam jual beli tersebut. Bersmasa driver lain, dia memilih untuk melawan praktik jual beli akun yang dilarang perusahaan tersebut. "Kami sesama driver punya group. Dan kami menekankan agar dari kelompok kami tidak ada jual beli aku. Ini menyangkut pekerjaan, mas," tambah dia.

Di Kabupaten Sidoarjo, praktik jual beli akun Gojek juga terjadi. HM (35) salah satu driver ojek online di Sidoarjo mengatakan, fenomena jual beli akun itu sudah terjadi sejak awal 2019. Sebabnya, perusahaan membatasi penerimaan driver baru.

"Lowongannya sangat minim. Sementara peminatnya banyak," katanya.

HM sendiri menjual akunnya seharga Rp 2 juta. Harga itu masih tergolong murah. Sebab, ada beberapa driver lainnya yang menjual akunnya di atas harga tersebut.

"Ada beberapa yang mempengaruhi harga yang ditawarkan. Kalau akun saya agak bandel saja," terangnya.

[irp]

Menurut HM, meski akun dijual dengan harga tinggi diyakini akan tetap laku. Di antara yang mempengaruhi tinggi rendahnya harga jual akun adalah skema poin. Jika skema poinnya semakin tinggi, harga jual juga akan tinggi.

"Tetap laku saja meskipun dijual dengan harga tinggi," kata driver yang juga dari perusahaan Gojek ini.

Sementara itu, MN salah satu driver pembeli akun mengaku tidak mempermasalahkan meski foto dan nomor polisi motor yang tersimpan di akun bukan atas nama dirinya. Saat pembelian akun, kata MN, juga diperkuat dengan surat bermaterai sebagai jaminannya hukumnya.

"Sudah ada kesepakatan. Saya yakin aman-aman saja," ujarnya.

Ternyata tidak hanya di Surabaya dan Sidoarjo. Di Kabupaten Gresik praktik jual beli akun Gojek juga terjadi. SH, driver Gojek asal Lamongan ini mengaku mengetahui ada praktik terlarang itu. Namun, sebagai sesama driver dirinya memilih diam.

"Semuanya tahu. Tapi, ya, itu urusannya masing-masing," ungkapnya.

Dia berharap, perusahaan menindak tegas akun yang diperjual belikan. Sebab, praktik itu berpengaruh kepada driver lainnya. Ketika mendapat penumpang, sering kali penumpang menanyakan keaslian akun driver.

"Memang setelah dijelaskan, penumpang memahami. Tapi, kan sangat mengganggu driver ditanya seperti itu. Ada ketidakpercayaan dan kehati-hatian dari penumpang," jelas bapak dua anak itu.

Gojek Ancam Putus Mitra Driver Nakal

Sementara itu, pihak Gojek telah mengetahui informasi adanya praktik jual bali akun tersebut. Bahkan, pihak Gojek tidak akan memberikan toleransi jika ada mitranya terbukti menjual akun.

Head Regional Corporate Affairs Gojek wilayah Jatim dan Nusatenggara-Bali Alfianto Domy Aji saat dikonfirmasi mengatakan, sesuai aturan mitra driver Gojek hanya diperbolehkan memiliki satu kartu tanda penduduk (KTP) dan satu nomor handphone saat mendaftar.

"Itu demi keamanan bersama. Mitra driver yang terbujti meminjamkan akun kepada orang lain dengan alasan apapun, akan diberikan sanksi putus mitra," jelasnya kepada klikjatim.com, Senin (16/12/2019).

Alfianto meminta, jika ada pengguna Gojek yang menemukan ada ketidaksesuaian data driver, pihaknya membuka ruang pengaduan. "Silahkan melaporkan temuannya kepada Gojek," pintanya.

Terkait penerimaan mitra driver baru, Alfianto menolak jika dikatakan Gojek memberikan batasan pendaftaran mitra driver baru. Gojek, kata dia, dalam penerimaan mitra driver baru menggunakan prinsip supply and demand di kota tersebut.

"Kalau dirasa sudah cukup, ya, tidak ada penerimaan mitra lagi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan layanan serta kesejahteraan mitra," uangkapnya.(nk/iz/mkr)

Editor :