klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Bukan Santet, Penyebab Kematian Puluhan Hewan di Tulungagung Karena Bakteri Mematikan

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo. (Iman/klikjatim.com)
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo. (Iman/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Isu santet menyusul banyaknya hewan peliharaan yang mati di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung beberapa waktu lalu akhirnya terpatahkan. Hal ini diketahui setelah Dinas Peternakan setempat melakukan uji lab dan ternyata ditemukan adanya bakteri yang mematikan.

[irp]

Perkembangan hasil investigasi ini disampaikan langsung oleh Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo saat dikonfirmasi di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso. Dia memastikan, bahwa penyebab kematian sapi dan kambing di Desa Sidomulyo bukan karena santet. Tapi ada penyebaran bakteri anthrax.

Ditemukannya penyebaran bakteri tersebut melalui hasil uji lab. Saat itu Dinas Peternakan melakukan uji sampel terhadap sapi yang mati, kemudian dibandingkan dengan 44 sampel sapi yang masih hidup.

"Total sapi yang mati sesuai data kita itu ada 26 ekor dan kambingnya 3 (ekor). Setelah itu kita lakukan penyuluhan dan kita ambil sampel sapi yang mati dan yang hidup, kemudian diujilabkan," ujarnya.

Dengan hasil tersebut, pihaknya bersama jajaran forkopimda Tulungagung langsung turun ke lapangan untuk menenangkan masyarakat dan memberikan penyuluhan agar tidak mudah termakan isu meresahkan. Khususnya terkait isu santet hewan.

Lebih lanjut diungkapkan, untuk mengantisipasi penyebaran bakteri anthrax dari hewan ke hewan maupun ke manusia, pihaknya bersama lintas sektoral telah mendirikan posko di Desa Sidomulyo.

Posko ini dimaksudkan untuk memantau kondisi kesehatan hewan peliharaan warga. Harapannya bisa segera memonitor perkembangan di lapangan, jika tiba-tiba ada yang kondisi kesehatannya menurun.

"Sampa saat ini penyebaran dari hewan ke manusia belum kita temukan. Makanya ini posko kita dirikan untuk mengantisipasi, salah satunya itu (antisipasi) penyebarannya," jelas Maryoto.

Selain itu, pihaknya juga menerapkan karantina sapi dan kambing agar hewan-hewan peliharaan dari desa setempat tidak dijual ke luar daerah sampai kondisinya benar-benar membaik.

"Karantina juga kita berlakukan untuk meminimalkan potensi penyebaran juga, sampai nanti saat dinyatakan sudah siap dijual bebas," pungkasnya. (nul)

Editor :