klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Tradisi di Ponorogo, Jualan Kopi Keliling Saat Panen Raya dengan Bayaran Gabah

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Saat musim panen raya tiba, ada yang menarik di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo. Di era yang serba modern ini ternyata masih ada transaksi seperti dulu kala. Barter! Yaitu sebuah transaksi jual beli bukan pakai uang, tetapi menggunakan barang.

[irp]

Kesepakatan jual beli model lawas ini diterapkan oleh para pedagang kopi dengan salah seorang pemilik sawah. Beli kopi, bayarnya dengan gabah.

Bagaimana ceritanya?

Sabtu (20/3/2021) pagi, tampak ada 5 pedagang kopi berkeliling menjajakan dagangannya dengan cara dipikul. Mereka menjajakan dagangannya lengkap dengan pikulan yang berisi dari tungku, kayu bakar hingga perlengkapan membuat minuman. 

Uniknya, mereka menjajakan barang dagangannya ini bukan di dalam perkampungan. Namun berada di area persawahan.

Ternyata oh ternyata, penjual kopi tersebut ingin menyasar para pekerja di sawah yang sedang panen. Biasanya para pemilik sawah akan meminta pedagang untuk menyediakan kopi serta jajanan bagi para buruh tani. Dan uniknya lagi, saat melakukan pembayaran si penjual kopi tidak mau menerima uang. Tapi diganti dengan (bayar) gabah atau padi dari hasil panen. 

Hal itu salah satunya dilakukan oleh Suraji, seorang penjual kopi keliling. "Saya sudah 10 tahun menggeluti usaha ini. Ini berat pikulannya 80 kg," ujarnya mengawali perbincangan, Sabtu (20/3/2021). 

Dia mengatakan, usaha kopi keliling ini merupakan usaha turun temurun dari orang tuanya. Dia pun menggantikannya ketika sang orang tua sudah tak kuat lagi.

"Tapi bukan pekerjaan total. Saya menjajakan kopi setahun sekali selama satu bulan, saat panen raya tiba. Itu pun hanya saat panen padi," katanya. 

Dia mengaku jika panen, biasanya full satu bulan untuk berdagang. Selebihnya dia bekerja sebagai buruh tani. "Kalau nggak dagang ya buruh tani," imbuh Suraji.

Selain jualan kopi, ia juga menyediakan menu teh dan susu. Termasuk jajanan tradisional seperti gandos, peyek, tahu, pisang. 

"Biasanya saya keliling mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB," papar Suraji. 

Dalam sehari, total rata-rata bisa menjual sampai 50 gelas. Untuk penghasilannya ditentukan dari kebaikan hati si pemilik sawah. Jika ketemu yang dermawan, dirinya akan dapat imbalan gabah lebih banyak. 

"Kalau yang dermawan biasanya kasih banyak, kalau yang pelit ya ngasih gabahnya sedikit," tukas Suraji. 

Saat disinggung kenapa tidak menerima uang sebagai alat pembayaran. "Ini meneruskan tradisi. Sehari bisa dapat 50 kg gabah," urainya. 

Bahkan, Suraji juga mengaku acap kali kepeleset saat menjajakan dagangannya. Tapi beruntung, ia masih mampu menahan beban pikulan yang di bawahnya tidak sampai tumpah. "Sering kepeleset, tapi nggak sampai tumpah (terguling)," terang Suraji. 

Sementara, salah satu pemilik lahan, Kateno mengaku senang dengan tradisi seperti ini. Karena saat repot mengurusi hasil panen, dia tidak disibukkan dengan mencarikan jajanan untuk para buruh atau pekerja. 

"Lumayan terbantu, ini kan tradisi. Upahnya ditukar sama padi," pungkas Kateno. (nul)

Editor :