Teladani Waliyah Zainab, Warga Bawean Keliling Kampung Bawa Pusaka Usir Pagebluk

klikjatim.com
Warga Diponggo, Bawean saat melakukan kegiatan kirab pusaka di makam Waliyah Zainab Desa Diponggo, Kecamatan Tambak Bawean. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik—Cara unik dilakukan masyarakat di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik untuk mengusir pagebluk. Kirab pusaka dengan keliling kampung dinilai cara yang tepat mengusir pagebluk covid-19 seperti sekarang ini.

[irp]

Baca juga: Terseret Pancing ke Tengah Tambak, Pria di Menganti Ditemukan Meninggal Dunia Setelah 5 Jam Dicari

Tradisi ini sudah dijalankan selama puluhan tahun sejak tokoh yang disakralkan Waliyah Zainab datang ke Pulau Bawean.

Sekadar diketahui, masyarakat Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, berkeliling kampung dengan membawa pusaka.

Namun pusaka dalam hal ini bukanlah senjata tajam pada umumnya. Melainkan tongkat kayu yang diukir semenarik mungkin.

Selain berkeliling kampung dengan mambawa pusaka, tokoh adat dan warga setempat juga melafalkan zikir dan selawat. Tradisi ini diyakini masyarakat sebagai penolak balak atau penyakit.

Baca juga: Lindungi Hak Sipil Warga, 41 Pasangan di Lamongan Ikuti Isbat Nikah Terpadu 2026

Apalagi dalam suasana seperti ini, tradisi kirab pusaka dianggap sangat tepat digelar untuk memulihkan suasana dari pandemi Covid-19.

Kepala Desa Diponggo Muhammad Salim mengatakan, tongkat kayu disimbolkan sebagai pusaka penjaga diri. Sebab menurut cerita-cerita para leluluhur, para tokoh dan ulama sebelumnya berdakwah menggunakan tongkat.

"Di samping menjalankan tradisi juga menjaga amanah Waliyah Zainab. Tokoh yang sampai sekarang menjadi panutan masyarakat setempat," kata Salim saat dihubungi, Jumat (4/9/2020).

Baca juga: Riding Malam Hari? Perhatikan Enam Poin Penting Ini Agar Tetap #Cari_Aman di Jalan

Menurut Salim, tradisi kirab itu hanya boleh diikuti oleh para bapak dan anak laki-laki. Sedangkan untuk kaum perempuan, mempersipakan alat dan sarana kirab. Seperti membakar kemenyan dan lain-lain.

"Pandemi sebenarnya kan sudah ada sejak zaman dahulu. Cuman istilahnya berbeda, lah kami masyarakat Bawean ingin mewarisi tradisi, yaitu bagiamana cara orang dulu membebaskan diri dari balak atau musibah pandemi," tuturnya.

"Pandemi sebenarnya kan sudah ada sejak zaman dahulu. Cuman istilahnya berbeda, lah kami masyarakat Bawean ingin mewarisi tradisi, yaitu bagiamana cara orang dulu membebaskan diri dari balak atau musibah pandemi," tuturnya. (mkr)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru