Produksi Minyak Field Sukowati Tertinggi di Pertamina EP Asset 4

klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Kegiatan produksi minyak di Lapangan Sukowati masih memberikan kontribusi tertinggi pada kinerja Asset 4 Pertamina EP. Hingga April 2020 produksi minyak di Field Sukowati ini mencapai 8.696 Barel Oil Per Day (BOPD). Ini menjadi yang terbanyak dari total produksi minyak Asset 4 yang tercatat 15.437 barel minyak perhari.

[irp]

Baca juga: Tudingan Pencemaran Nama Baik Berujung Laporan Polisi, Kades Sumberagung dan Warga Akhirnya Damai

General Manager PT Pertamina Asset 4, Agus Amperianto menjelaskan, di tengah pandemi Covid 19, pihaknya tetap menunjukkan upaya positif ditengah kondisi Triple Shock yang melanda Industri Migas Indonesia. Kondisi migas Indonesia saat ini tengah mengalami Triple Shock, yaitu melemahnya harga minyak dunia, tingginya nilai tukar dolar dan pandemic global COVID19.

“Hal tersebut tentunya berdampak terhadap operasi kami di sektor hulu migas. Namun alhamdulillah dengan segala doa dan upaya, kami berhasil menyelesaikan pemboran sumur SKW-I03 di Sukowati Field dengan hasil uji produksi sumur ini memberikan kontribusi minyak sebesar 947 BOPD,” ujar Agus Amperianto.

Adapun capaian produksi PEP Asset 4 hingga April 2020, untuk Minyak mencapai 15,437 Barel per Hari (BOPD) atau 99,11% terhadap target. Sementara untuk Gas mencapai 171.76 Juta Kaki Kubik Gas Per Hari (MMSCFD) atau 103.47% terhadap target.

Sumbangsih terbesar produksi untuk minyak dari Lapangan Sukowati yaitu 8,696 BOPD. Sedangkan sumbangsih terbesar produksi gas dari Lapangan Donggi Matindok yaitu 98,54 MMSCFD.

Disebutkan, pencapaian produksi April 2020 per field di Asset 4 masing masing Field Cepu Minyak sebesar 2,115 BOPD dan gas  ada 55.40 MMSCFD. Selanjutnya Field Poleng meliputi minyak  2,660 BOPD dan gas 4.57 MMSCFD.  Kemudian Field Donggi Matindok ada kondensat :894 BCPD serta gas 98.54 MMSCFD. Untuk Field Sukowati tercatat produksi minyak: 8,696 BOPD dan gas  12.47 MMSCFD.

"Untuk Field Papua meliputi minyak  999 BOPD dan gas ada 0.78 MMSCFD. Serta Unitisasi Wakamuk ada minyak : 73 BOPD," ujar General Manajer Asset 4 PTPertamina EP.

“Kami bersyukur capaian produksi kami masih bisa mengejar target yang ditetapkan. Dan Strategi Optimisme kami dalam menyelesaikan target produksi hingga akhir tahun 2020, mengingat harga minyak dunia tengah mengalami penurunan yang signifikan, salah satunya dengan mempertahankan produksi eksisting agar tidak banyak sumur yang mengalami low and off serta mengoptimalkan produksi sumur tua,”  imbuh Agus.

[irp]

Baca juga: Antisipasi Penyebaran Super Flu, Dinkes Bojonegoro Anjurkan Warga Lakukan Vaksinasi Influenza

Selain itu, lanjut Agus, kami menerapkan Cost Leadership melalui evaluasi Rencana Kerja Bor / Work Over / Well Intervention berdasarkan keekonomian dengan sensitivitas harga minyak.

“Dapat kami sampaikan juga, bahwa hingga akhir tahun 2020 kegiatan pemboran sumur baru sementara ditiadakan, pemboran ditunda ke tahun 2021, selain karena kondisi triple shock juga karena sedang dalam proses IPPKH dan penyiapan lokasi bor,” jelas Agus.

Selain fokus terhadap peningkatan produksi, pihaknya juga tetap berupaya meningkatkan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi yang salah satunya kegiatan Seismik di Papua telah selesai dilakukan di Februari 2020, namun saat ini masih dalam tahap evaluasi untuk pengembangan lapangan lanjut di Papua.

“Selain itu, saat ini juga sedang berlangsung beberapa study inhouse GGRP untuk mendapatkan peluang-peluang baru di Field Cepu, Donggi Matindok, Sukowati dan Papua. Harapan kami, setelah kondisi ini berlalu, kami bisa catch up dengan rencana yang sudah ditetapkan dan bisa memenuhi target produksi migas secara nasional,” terang Agus.

[irp]

Baca juga: Gudang Solar Terbakar, Suplai BBM Proyek Irigasi Kali Pacal Jadi Sorotan

Sementara itu, President Director PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf, menambahkan bahwa Pertamina EP optimis untuk bisa melalui masa sulit ini akibat penurunan harga minyak dunia yang terjadi dengan sangat cepat dalam kurun waktu hitungan hari.

“Apalagi Pertamina EP memiliki pengalaman operasi di tengah rendahnya harga minyak sehingga kondisi saat ini bukan hal yang terlalu mengejutkan. Pertamina EP telah menyiapkan strategi jika kondisi anjloknya harga minyak terus berlangsung dalam waktu yang tidak lama,” kata Nanang.

Nanang meminta para Field Manager dan General Manager di masing-masing asset sebagai perpanjangan tangan manajemen Pertamina EP untuk melakukan efisiensi beberapa program yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan operasi produksi. Pertamina EP tetap menjalankan WP&B dengan pelaksanaan seefektif mungkin.

“Tidak ada pembatasan biaya sepanjang setiap biaya yang dikeluarkan berdampak pada peningkatan kinerja, produksi, cadangan, HSSE. Hal-Hal yang tidak berhubungan dengan produksi dan peningkatan cadangan dan sebagainya, ya kita tidak lakukan,” ungkapnya. (hen)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru