Studi Tiru ke Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo, Puluhan Kades Asal Kalsel Pelajari Inovasi Lingkungan Berbasis SDGs

Reporter : Much Taufiqurachman Wahyudi
Puluhan Kepala Desa dari Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, belajar inovasi lingkungan ke Kampung Edukasi Sampah (KES) Sekardangan, Sidoarjo.

KLIKJATIM.Com | Sidoarjo – Puluhan kepala desa yang tergabung dalam Ikatan Kerukunan Kepala Desa (IKKD) Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mendatangi Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, Jumat (06/11/2026).

Rombongan studi tiru ini bertandang khusus untuk menggali inovasi dan praktik baik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat untuk direplikasi di wilayah masing-masing.

Baca juga: Patra Logistik Perluas Pengelolaan Layanan BBM, LPG, dan Aviasi di Jatimbalinus, Kalimantan, hingga Sulawesi

Dalam kunjungan tersebut, para kades dan perangkat desa tidak hanya mempelajari teknik pemilahan sampah hulu-hilir, tetapi juga mengamati langsung keterpaduan sistem lingkungan.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian rombongan yakni Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang mampu mengolah air selokan dan limbah rumah tangga menjadi air bersih layak guna untuk penyiraman tanaman warga.

Pendamping rombongan dari Kantor Kecamatan Bati-Bati, Lastri, menuturkan bahwa kunjungan ini bertujuan menyerap ide-ide segar pengelolaan lingkungan yang aplikatif.

"Inovasi IPAL yang mampu mengolah air limbah rumah tangga untuk dimanfaatkan kembali sebagai air penyiraman tanaman menjadi hal menarik yang perlu dipelajari lebih lanjut dan berpotensi diterapkan di desa-desa Kecamatan Bati-Bati," ujar Lastri.

Hal senada disampaikan perwakilan Kepala Desa Kabupaten Tanah Laut, Sukiman. Pihaknya sengaja memboyong tim operasional desa agar mendapatkan gambaran teknis dan pengalaman lapangan secara langsung.

"Kami datang bersama tim dan perangkat desa untuk belajar di Kampung Edukasi Sampah. Harapannya, berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh bisa kami terapkan di tempat masing-masing," ungkap Sukiman.

Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo dikenal sebagai kawasan permukiman yang sukses menerapkan sistem tata kelola lingkungan terpadu berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R). Pengolahan sampah organik dilakukan melalui beragam metode adaptif seperti komposter aerob, metode Takakura, tong aerob, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga pengoperasian mesin pencacah sampah.

Baca juga: Kodaeral V Gagalkan Pengiriman 36 Ton Konsentrat Emas dan 23 Kontainer Kayu Merbau Ilegal 

Sementara untuk sampah anorganik, warga mengelolanya melalui Bank Sampah Telulikur yang tidak hanya mengurangi residu ke TPA, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi warga. Kawasan ini turut dilengkapi fasilitas hidroponik, sumur resapan, IPAL komunal, hingga pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi terbarukan.

Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo, Edi Priyanto, menegaskan bahwa tata kelola lingkungan tingkat desa harus diintegrasikan langsung dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

"SDGs jangan hanya menjadi pemahaman atau dokumen perencanaan di tingkat pusat dan daerah. Pemerintah desa juga harus memahami apa itu SDGs, apa tujuan dan indikatornya, serta bagaimana menerjemahkannya ke dalam program dan kegiatan nyata di desa," tegas Edi.

Ia merinci bahwa inovasi di KES Sidoarjo menyokong langsung sejumlah poin SDGs, di antaranya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Baca juga: Polresta Sidoarjo Ungkap 147 Kasus Narkoba Dalam Tiga Bulan

Edi mengingatkan, keberhasilan pengelolaan lingkungan di tingkat desa tidak melulu ditentukan oleh besarnya alokasi anggaran atau kecanggihan fasilitas, melainkan kepemimpinan, konsistensi, dan partisipasi aktif warga.

"Jangan menunggu anggaran besar atau fasilitas lengkap untuk mulai bergerak. Mulailah dari rumah tangga, libatkan masyarakat, bangun gotong royong, dan lakukan secara konsisten. Setiap desa memiliki potensi untuk mengembangkan inovasi lingkungan sesuai karakteristik dan sumber daya yang dimiliki," tambahnya.

Sebagai destinasi edukasi lingkungan terkemuka, Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo saban tahun menerima 3.000 hingga 4.000 pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, akademisi, instansi pemerintah, hingga delegasi internasional.

Melalui transfer pengetahuan ini, KES Sidoarjo terus membuka pintu kolaborasi bagi Pemdes maupun BUMDes se-Indonesia untuk belajar membangun sistem lingkungan yang mandiri dan berkelanjutan. 

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru