KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Delapan tahun lalu, sebanyak 108 putra-putri terbaik Bojonegoro memulai langkah kecil sebagai peserta Program Apprentice SKK Migas bersama PT Pertamina EP Cepu (PEPC) yang tengah menggarap Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB).
Kini, banyak di antara mereka telah menjadi operator yang menjalankan langsung fasilitas produksi gas strategis nasional tersebut.
Baca juga: Cerita Kapal Pertamina Selamatkan 16 Penumpang Kapal Virgo Transport 8 di Perairan Banjarmasin
Sebuah bukti nyata bahwa kehadiran industri hulu migas di Bojonegoro tidak hanya soal produksi energi, tetapi juga soal membangun manusia.
Sejak tahap awal pengembangan, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 sebagai operator Lapangan Gas JTB menempatkan penyerapan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari strategi keberlanjutan proyek.
Program Apprentice yang diikuti 108 putra putri terbaik Bojonegoro dirancang bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan pembekalan kompetensi teknis operasional yang setara dengan standar industri migas nasional.
Melalui pelatihan intensif yang mencakup aspek keselamatan kerja (HSSE), operasional peralatan dalam industrial dan produksi gas, hingga pemahaman proses bisnis hulu migas, para peserta dipersiapkan untuk mengisi posisi-posisi strategis begitu lapangan JTB memasuki fase produksi penuh.
Transformasi ini menjadi salah satu capaian penting di sekitar wilayah operasi JTB. Para alumni program apprentice yang kini bertugas sebagai operator membuktikan bahwa keberadaan industri strategis nasional dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan sumber daya manusia daerah penghasil seperti halnya di Bojonegoro ini.
Salah satunya adalah Ali Masykur Musa , 25 tahun, yang berasal dari Kecamatan Bojonegoro, merupakan alumni SMA Negeri 4 Bojonegoro yang berhasil lolos seleksi Program Apprentice. Ali yang berhasil meraih nilai tertinggi sebanyak 3.85 , menempuh pendidikan selama 18 bulan di PEM Akamigas, Markas Besar Kopassus Solo dan juga pusat pelatihan di Ciawi. Setelah itu, menjalani On The Job Training di Proyek JTB hingga akhirnya menjadi Jr. Technician di JTB Field.
“Tidak ada bayangan sama sekali dapat diterima oleh Pertamina EP Cepu, karena waktu itu saya juga sedang mencari-cari universitas untuk meneruskan kuliah. Malah dapat berkah diterima di PEPC dan lalu menjalani pendidikan.” Ujarnya.
Disampaikan oleh Field Manager JTB, Sujianto, pihaknya bersama SKK Migas telah berkomitmen untuk terus memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Keberhasilan ini juga menjadi role model kemitraan yang ideal antara operator migas dan pemerintah daerah, di mana masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi pelaku aktif di dalamnya.
Baca juga: Dari Inovasi di Lapangan, Pertamina Jatimbalinus Bawa Pulang 69 Penghargaan ENSIA
Ditambahkan Sujianto, penyerapan tenaga kerja lokal di Lapangan JTB diharapkan juga turut memberikan efek berganda bagi perekonomian Bojonegoro seperti peningkatan daya beli masyarakat, tumbuhnya sektor usaha pendukung di sekitar area operasi, hingga terbukanya akses generasi muda daerah terhadap jenjang karier di industri energi nasional.
“Komitmen ini sejalan dengan semangat PEPC Zona 12 untuk menjadikan Bojonegoro tidak hanya sebagai lokasi produksi gas strategis, tetapi juga sebagai rumah bagi tumbuhnya kompetensi dan kesejahteraan masyarakatnya”, urainya.
Sebagai salah satu proyek strategis nasional (PSN) penghasil gas bumi, Lapangan JTB mengemban amanat besar untuk turut menjaga ketahanan energi nasional.
Namun bagi PEPC Zona 12, pemenuhan target produksi tidak pernah dipandang terpisah dari tanggung jawab terhadap masyarakat di lingkar operasi.
Baca juga: Sidak SPBU Jember, BPH Migas Siapkan Jalur Suplai Alternatif untuk Antisipasi Antrean BBM
Keberhasilan Program Apprentice yang kini melahirkan operator-operator lokal menjadi cerminan bahwa kehadiran industri hulu migas di Bojonegoro dirancang untuk memberi manfaat ganda, memasok kebutuhan energi bangsa sekaligus mengangkat taraf hidup masyarakat sekitar wilayah operasi.
Sinergi antara pemenuhan target nasional dan kesejahteraan lokal inilah yang pada akhirnya menciptakan harmoni sosial di sekitar Lapangan JTB.
Ketika masyarakat merasakan langsung manfaat kehadiran industri migas melalui kesempatan kerja dan pengembangan kapasitas diri, dukungan terhadap kelancaran operasi pun tumbuh secara alami.
Harmoni inilah yang menjadi fondasi penting bagi PEPC Zona 12 untuk terus menjalankan operasi hulu migas secara lancar, aman, dan mengedepankan prinsip keselamatan (safety) di setiap lini kegiatan, sejalan dengan komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat.
Editor : Wahyudi