KLIKJATIM.Com | Surabaya – PT Pelindo Terminal Petikemas meluruskan kabar mengenai adanya antrean kapal hingga enam hari di sejumlah terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Perseroan memastikan pelayanan bongkar muat berjalan normal dan sesuai perencanaan operasional.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan seluruh terminal peti kemas yang dikelola, yakni TPK Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam, dan TPK Berlian, tetap memberikan layanan sesuai standar operasional tanpa keterlambatan signifikan yang memengaruhi jadwal sandar kapal.
Baca juga: Pacu Arus Peti Kemas, Pelindo Optimis Ekspor Indonesia Menguat di 2026
“Kami pastikan tidak ada kapal yang harus mengantre hingga enam hari untuk mendapatkan pelayanan di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Perak,” tegas Widyaswendra, Senin (2/2).
Ia menjelaskan, setiap kapal yang akan melakukan kegiatan bongkar muat telah memiliki jadwal kedatangan yang terencana melalui sistem berthing window. Pelayanan diberikan berdasarkan kebijakan operasional terminal dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, keselamatan, kondisi lapangan, serta kelancaran arus lalu lintas kapal.
Menurut Widyaswendra, kepadatan aktivitas di terminal peti kemas memang kerap terjadi pada periode tertentu, seperti menjelang hari besar keagamaan. Lonjakan jumlah muatan dan kunjungan kapal dapat berdampak pada intensitas pelayanan, namun pengelola terminal tetap berupaya menjaga kelancaran operasional.
“Waktu tunggu bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kedatangan kapal yang lebih cepat atau terlambat dari jadwal, peningkatan volume muatan, kesiapan alat dan kecepatan bongkar muat, hingga faktor alam seperti cuaca dan pasang surut air laut,” ungkapnya.
Meski demikian, Widyaswendra menyebut sebagian besar kapal tiba sesuai jadwal dan dapat langsung dilayani. Jika terjadi keterlambatan, waktu tunggu layanan masih berada pada kisaran 15 hingga 30 jam.
Sebagai upaya peningkatan kualitas layanan, PT Pelindo Terminal Petikemas terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Pada tahun 2026, TPS Surabaya dijadwalkan menerima tambahan empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG). Sementara itu, TPK Berlian juga akan diperkuat dengan dua unit QCC yang diperkirakan tiba pada pertengahan 2026.
“Kami terus berbenah dan melakukan perbaikan di seluruh wilayah kerja, mulai dari Belawan hingga Merauke,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPC Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Surabaya, Stenven Handry Lesawengan, mengakui sempat menerima laporan keterlambatan bongkar muat di TPK Berlian akibat kesiapan alat. Namun, pihaknya telah berkomunikasi dengan pengelola terminal untuk mencari solusi bersama.
“Pengelola terminal cukup terbuka dan kooperatif. Tidak pernah ada antrean kapal di terminal peti kemas sampai berhari-hari,” kata Stenven.
Senada, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mendorong pengelola terminal melakukan peremajaan alat bongkar muat. Menurutnya, keberadaan alat baru sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan ukuran kapal dan peningkatan arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak.
“Kami sudah mendengar rencana kedatangan alat baru di TPS Surabaya. Harapannya, langkah serupa juga dilakukan di terminal lain, khususnya TPK Berlian,” pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar