KLIKJATIM.Com | Bojonegoro – Potret buram dunia pendidikan masih terlihat di pelosok Kabupaten Bojonegoro. Puluhan siswa di RA–MI Bahrul Ulum Deling, Dusun Dibal, Desa Deling, Kecamatan Sekar, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di gedung yang jauh dari kata layak. Dinding berlubang, atap bocor, hingga lantai yang masih berupa tanah menjadi pemandangan sehari-hari bagi para siswa.
Kondisi memprihatinkan ini memicu kekhawatiran Pemerintah Desa (Pemdes) Deling. Pihak desa kini mengetuk pintu hati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk turun tangan menyelamatkan satu-satunya akses pendidikan di dusun tersebut.
Baca juga: Tragedi di Perlintasan KA Kalitidu, Pria Asal Sumatera Selatan Tewas Tertemper KA Gumarang
Salah satu pengajar, Supaiti, menceritakan betapa sulitnya proses belajar mengajar di sekolah yang berdiri sejak tahun 2014 tersebut. Sekolah ini hanya memiliki satu bangunan utama berukuran 14 x 6 meter.
"Bangunan itu terpaksa kami sekat menjadi empat ruangan kecil untuk melayani enam kelas MI dan satu kelas RA. Kalau hujan, atap bocor di mana-mana. Anak-anak tetap belajar seadanya meski lantai tanah ini seringkali becek," ungkap Supaiti dengan nada sedih, Kamis (15/1/2026).
Meski kondisinya darurat, keberadaan RA–MI Bahrul Ulum sangat vital. Saat ini terdapat 48 siswa yang menggantungkan pendidikan mereka di sana, mengingat sekolah dasar terdekat lainnya berjarak sekitar 4 kilometer—sebuah jarak yang cukup jauh bagi anak-anak usia dini di wilayah pegunungan.
Baca juga: Uang Rp74 Juta Hampir Melayang, Warga Sampang Bongkar Modus Penipuan Minyak Goreng di Facebook
Kepala Desa Deling, Didik Prioman, menegaskan bahwa pihak desa sebenarnya tidak tinggal diam. Sekolah tersebut dibangun di atas tanah desa secara swadaya oleh warga yang menginginkan anak-anaknya bersekolah dekat dengan rumah.
"Kami sangat prihatin. Desa sempat berencana mengalokasikan anggaran sekitar Rp150 juta untuk perbaikan, namun rencana itu tertunda karena adanya pemotongan dana desa," jelas Didik.
Saat ini, Pemdes hanya mampu memberikan bantuan semampunya, seperti pemberian insentif bagi lima tenaga pendidik serta pendampingan legalitas yayasan. Didik berharap ada sinergi dari Pemkab Bojonegoro, Pemprov Jatim, hingga pihak swasta (CSR) untuk segera merenovasi gedung tersebut.
Baca juga: Bantu Siswa Tentukan Kampus Impian, MGBK Gresik Gelar Edu Fair 2026 yang Diikuti 3.800 Peserta
"Kami berharap ada perhatian serius. Jangan biarkan anak-anak kami belajar di lantai tanah. Mereka berhak mendapatkan tempat belajar yang aman dan nyaman," pungkas Didik.
Aksi cepat pemerintah daerah kini sangat dinantikan agar semangat 48 siswa di Dusun Dibal tidak padam hanya karena persoalan sarana dan prasarana yang terbengkalai.
Editor : Fatih