KLIKJATIM.com | Tulungagung - Peringatan Hari Air Sedunia jatuh pada Senin (22/03) ini, Pemkab Tulungagung memperingatinya dengan menetapkan Dam Cluwok sebagai Monumen Dam Cluwok. Penetapan ini bukan tanpa alasan mengingat peran Dam Cluwok dalam perkembangan Kabupaten Tulungagung yang sejak dulu dikenal sebagai wilayah rawan banjir.
[irp]
Baca juga: Ketua RAPI Tulungagung Meninggal Dunia saat Perbaiki Repeater di Puncak Gunung
Bupati Tulungagung,Maryoto Birowo mengatakan,peran Dam Cluwok sejak pertama kali dibangun pada tahun 1931 di jaman kolonial adalah sebagai Dam pembagi air. Namun seiring dengan difungsikannya terowongan Niyama di Besuki, peran Dam CLuwok mulai berkurang, bahkan kini tak lagi berfungsi. "Dulu air mengalir melalui Dam ini dan diatur, sehingga tidak membanjiri wilayah wilayah di Tulungagung,"jelasnya.
Namun di masa jayanya, Dam Cluwok mampu mengendalikan air saat musim hujan berkepanjangan, sehingga wilayah rawa rawa yang ada di Tulungagung bisa berangsur angsur kering dan menjadi lahan produktif. "Imbasnya daerah rawa rawa bisa menjadi kering dan jadi lahan pertanian produktif, seperti sekarang ini, sebelum difungsikannya Niyama di tahun 1986 an,"ucapnya.
Baca juga: Terpapar Dari Orang Tuanya, Siswa SD Negeri Tulungagung Terkonfirmasi Covid-19
Maryoto menjelaskan, dengan menjadikan Dam Cluwok sebagai monumen,diharapkan bisa menjadi momentum bersejarah bagi generasi saat ini untuk mengingat pentingnya Dam Cluwok dalam menjaga keberadaan air di Tulungagung.
"Ini sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian air dan sumber sumber mata air, agar generasi mendatang bisa mengetahui fungsi Dam ini,"ucap Bupati.
Baca juga: Pilkades Serentak 2021, Pengguna Hak Pilih Wajib Prokes
Sementara itu, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Tulungagug, Triono menyebut, dari segi usianya Dam Cluwok sudah masuk kategori diatas 50 tahun, namun untuk memastikannya menjadi Benda Cagar Budaya, diperlukan kajian mendalam. "Kalau dari segi usia sudah 50 tahun lebih, tapi perlu kajian mendalam lagi,perlu dilakukan pendalaman untuk memastikannya," ujar Triono.
Menurutnya perlu informasi lebih dalam mengenai siapa yang merancang,bentuk aslinya dan keterangan keterangan lain dari saksi sejarah yang mengetahuinya. Apalagi Dam ini juga sudah dua kali mengalami renovasi di tahun 60 dan tahu 70an. (ris)
Editor : Wahyudi