KLIKJATIM.Com | Jakarta - PT Semen Indonesia Tbk (SIG) membuktikan kepeduliannya untuk ikut andil dalam menyikapi penanganan, pengelolaan dan pemanfaatan sampah di Indonesia yang masih terus menjadi permasalahan krusial. Tak hanya itu, namun pola penanganan yang simultan melalui program jangka panjang secara komprehensif juga dianggap sangat dibutuhkan untuk mengurai problematika yang cukup kompleks.
[irp]
Baca juga: Perkuat Bank Jatim, Gubernur Khofifah Gandeng Maybank Islamic Malaysia Bangun Ekosistem Halal Global
Diakui bahwa kondisi demikian juga sudah mulai menggugah kesadaran banyak pihak secara ‘senyap’ maupun terang-terangan, untuk ikut tergerak dalam mengambil tindakan. Misalnya dengan aktif memberikan imbauan 3R (reduce, reuse and recycle) yang sudah cukup familiar di masyarakat, sebagai dampak dari kampanye positif yang terus digaungkan oleh sejumlah pihak termasuk SIG.
Bahkan SIG juga berinisiatif memilih untuk lebih fokus terkait masalah sustainability. “Dengan didorong oleh visi perusahaan dan sustainability strategy yang kami miliki, maka fokus kami lebih pada circular economy business sebagai keunggulan kompetitif kami,” ujar Direktur Utama (Dirut) SIG, Hendi Prio Santoso, kepada media, beberapa waktu lalu.
Demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan, lanjut Hendi, pihaknya berkomitmen untuk terus berinovasi dan mengembangkan teknologi untuk memaksimalkan kinerja perusahaan serta kemanfaatan terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitar. Salah satunya melalui upaya pemanfaatan energi alternatif untuk bahan bakar, sebagai bagian dari dukungan nyata perusahaan terhadap langkah pemerintah dalam mengurangi penggunaan batu bara.
“Kami ingin memberikan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah domestik yang dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan juga masyarakat luas,” jelasnya.
Menurutnya, kini semua pabrik SIG tanpa terkecuali telah menggunakan biomassa sebagai bahan bakar alternatif. Contohnya di Pabrik Solusi Bangun Andalas (Aceh), Semen Padang (Sumatera Barat) dan Semen Tonasa (Sulawesi Selatan) sudah memakai bahan bakar alternatif yang berasal dari sekam padi dan serbuk gergaji.
Kemudian sejak 2008 lalu, seluruh operasional di Pabrik Tuban, Jawa Timur, juga telah menggunakan bahan bakar biomassa dari sekam padi, sabut kelapa, limbah tembakau, dan juga biji jagung. “Semua limbah pertanian itu kami dapat dari sejumlah kabupaten di Jawa Timur. Antara lain Tuban, Lamongan, Bojonegoro, dan Banyuwangi," tuturnya.
"Tahun ini setiap bulan Pabrik Tuban menerima kiriman sekam padi sebanyak 2.553 ton, cocopeat sebanyak 244 ton, limbah tembakau sebayak 244 ton, serta kertas reject sebanyak 90 ton, semuanya untuk sumber bahan bakar alternatif kami,” tambah Dirut SIG tersebut.
Baca juga: Pecahkan Rekor Sejarah! Misi Dagang Jatim di Malaysia Tembus Transaksi Rp15,25 Triliun
Sedangkan di pabrik milik PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) yang merupakan salah satu anak usaha perusahaan, juga sudah memanfaatkan sampah perkotaan (Municipal Solid Waste/MSW) sebagai bahan bakar alternatif, dalam pembuatan semen lewat fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Refused Derived Fuel (TPS RDF) yang dibangun di daerah Tritih Lor, Jeruklegi, Kabupaten Cilacap. Fasilitas tersebut diresmikan pada Juli 2020 dan merupakan fasilitas pengolahan sampah domestik terpadu pertama di Indonesia.
Perlu diketahui bahwa fasilitas ini dimiliki oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cilacap atau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang berkerja sama dengan Pemerintah Kerajaan Denmark, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta mendapat dukungan dari Kementerian LHK bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR).
“Dalam proyek jangka panjang ini SBI ditunjuk sebagai operator dan bertanggungjawab mempersiapkan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan, serta offtaker produk RDF,” papar Hendi.
Fasilitas pemanfaatan sampah perkotaan di TPA Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, dibangun di atas lahan seluas 1 hektar dan mampu mengolah limbah sampah domestik sebesar 120 ton per hari yang dapat menghasilkan 60 ton RDF per harinya. 60 ton RDF per hari mampu menggantikan 40 ton batu bara per hari.
Baca juga: Masyarakat Madiun Padati Honda Premium Matic Day, Jajaran Skutik Premium Jadi Primadona
Refuse-Derived Fuel (RDF) merupakan hasil dari sampah domestik yang diolah dengan metode biodrying untuk dijadikan energi terbarukan dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Pemanfaatan sampah tersebut mampu mensubstitusi penggunaan batu bara menjadi bahan bakar hingga 3% Substitusi Energi Panas (Thermal Substitution Rate/TSR).
Yang terbaru, di akhir September 2020 SBI telah menjalin kerjasama dengan DLH Provinsi DKI Jakarta dan PT Unilever Indonesia dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah domestik di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang menjadi bahan bakar alternatif berupa Refused Derived Fuel (RDF). Kerjasama ini dilaksanakan pada zona tertentu di TPST Bantargebang yang telah berusia lebih dari 10 tahun.
Diterangkan, proses mengubah sampah menjadi bahan bakar meliputi penggalian dan pengayakan. Lalu dikirim ke lokasi Pabrik SBI di Narogong, Jawa Barat untuk dicacah dan melalui proses pengurangan kadar kelembaban dengan campuran material lain guna menghasilkan RDF, yang memenuhi standar kualitas alternatif bahan bakar untuk pabrik semen. Produk RDF yang akan dihasilkan dari proyek awal ini minimum 1.000 ton/bulan dan 80-90% nya terdiri dari sampah plastik yang akan dimanfaatkan oleh SBI sebagai sumber energi alternatif.
“Semoga inovasi teknologi yang dilakukan SIG ini selanjutnya bisa menjadi contoh dalam pengelolaan sampah, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pengelolaan sampah kota/kabupaten kepada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah yang sampai saat ini keberadaannya selalu menjadi masalah, baik lingkungan maupun sosial,” harap Hendi. (hen)
Editor : Redaksi