KLIKJATIM.Com I Probolinggo - Parman bukan nama sebenarnya, warga Kademangan Probolinggo tak bisa menahan emosi. Amarahnya masih menetup lantaran putri ketiganya, sebut saja Mawar dicabuli tukang keramik. “Biar kapok. Meski masih keluargaa, harus dihukum seberat-beratnya. Dia yang merusak masa depan anak saya,” kata Parman.
[irp]Sejak Jumat (2/10) tukang keramik yang berinisial M dijebloskan penjara. Sedang korban Mawar, adalah seorang gadis berusia 15 tahun atau siswi kelas 9 SMP. Sebenarnya antara korban dan pelaku masih ada hubungan kekerabatan. Rumah mereka pun tak berjauhan atau bertetangga.
Parman mengaku Mawar sempat dituduh ada main dengan kakak iparnya. Ceritanya, pada suatu hari putri keduanya datang bersama suaminya ke rumah parman. Mereka mempertanyakan soal kebenaran informasi bahwa suami dari putri kedua menjalin asmara dengan Mawar.
Lantaran memang tak benar tuduhan itu, Mawar tidak mengaku. Bahkan Mawar dibawa kepada seorang kiai agar berterus terang. "Begitu ketemu kiai, langsung roboh. Ya mungkinMawar merasa punya salah,” katanya.
Usai maghrib, sang menantu menelpon Paman, memberitahukan kalau korban sudah buka mulut. Marwan mengaku tidak pernah menjalin asmara, apalagi berhubungan intim dengan kakak iparnya. Hanya saja Parman belum mengaku siapa yang pernah menjalin asmara dengan dirinya. “Karena belum ngaku, akhirnya saya bawa ke rumah ketua RT,” ujar Paman.
Barulah di dihadapan ketua RT, Marwar mengaku lelaki yang pernah mencabulinya. Tak lain adalah M. Malam itu juga M digeladang ke pihak berwajib. Sebelumnya ketua RT setempat memanggil ketua RW dan babinkamtibmas serta babinsa.
Pengakuan Mawar, pencabulan telah dialaminya sejak 2019. M melakukannya dengan ancaman akan dibunuh jika menolak. Saat dijemput petugas, M tengah memasang keramik. “M yang memfitnah anak menantu saya menjalin asmara dengan korban putri ketiga saya. Mungkin dia cemburu ,” tambahnya.
Mamang hampir setiap hari menantunya, datang kerumahnya. Menantu Parman bersama keluarganya tinggal di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih. Setiap pagi dari Senin hingga Sabtu menantunya ke rumah Parman mengantar anaknya yang sekolah TK di dekat rumah kakeknya. “Setelah mengantar anaknya, menantu saya langsung pulang dan berangkat kerja,” bebernya.
Parman memang tidak mengetahui pencabulan itu. Pagi hingga petang A tidak ada di rumah, tidak ada tanda-tanda aneh di diri korban. “Rumah sepi. Istri saya kerja berangkat pagi, pulang sore. Saya kerja berangkat pukul 6.00 dan pulang habis mahgrib,” jelasnya.
Parman berharap, penegak hukum mengusut tuntas kasus yang menimpa anaknya dan pelaku diganjar hukuman setimpal. Parman menegaskan tidak akan menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan, meski istri A masih sepupu korban. (hen)
Editor : Redaksi