KLIKJATIM.Com | Ngawi - Banyak orang penasaran dengan lelaku atau doa yang dilakukan Giman (47) saat memindahkan rumah seorang diri dalam semalam di Dusun/Desa Mengger, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi. Benarkah ada rapalan doa-doa yang dibacakan Giman untuk memindahkan rumah jenis rumah adat Jawa, yang terdiri dari 20 tiang kayu, lengkap dengan atap genting dengan rukuran 10 x 12 meter.
"Ya saya memang membaca doa dan doanya sesuai keyakinan kita aja," ujar Giman menjawab pertanyaan doa yang dibacakan dalam proses memindah rumah pada Kamis malam Jumat (25/6) sekitar pukul 23.00 WIB hingga pukul 00.30 WIB.
"Keyakinan dan keikhlasan. Intinya kita ikhlas yakin bahwa kita menghadap sesuatu yang kita inginkan harus terwujud atau terjadi. Keyakinan kita terhadap Allah untuk meratapi supaya kita kuat aja," terang Giman.
[irp]
Menurutnya, berdoa tidak harus menggunakan bahasa Al-Qur'an atau bahasa Arab. Menurutnya, Tuhan mengerti semua bahasa, sehingga dia menggunakan doa dalam Bahasa Jawa. "Doanya kalau orang Jawa itu, kan Allah maha mengerti, nggak harus bahasa Al-Qur'an. Menurut aku sih yang penting keyakinan hati dengan tulus. Jadi ndak harus bahasa Al-Qur'an itu menurut aku," paparnya.
Terkait fenomena ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ngawi menilai, peristiwa itu bisa saja terjadi. "Ya itu mungkin-mungkin saja terjadi. Hal seperti itu bisa terjadi bisa tidak," ujar Ketua MUI Ngawi, Dr A Halil Thahir, MHI.
Menurutnya, Tuhan menciptakan makhluk yang kasat mata dan tidak kasat mata. Ia kemudian menyoroti soal kesalehan Giman sehingga bisa memindahkan rumah tersebut seorang diri. "Bisa terjadi bisa tidak. Misalkan terjadi, Allah menciptakan itu (makhluk) ada yang kasat mata, ada yang tidak. Jadi kalau bisa melakukan itu serta merta menunjukkan kesalehan seseorang atau tidak," paparnya.
"Kesalehan itu takarannya sejauh mana seseorang melaksanakan ajaran agama dengan baik. Kalau pun seseorang punya kemampuan itu, tergantung kalau caranya benar ya benar," tambahnya.
[irp]
Pada bagian lain Bupati Ngawi Budi Sulistyono menyampaikan, pihaknya tidak akan menutup destinasi wisata dadakan itu meski pandemi Corona belum berakhir. Namun pihaknya telah berkoordinasi dengan Forkopimda, untuk memerintahkan Forkopimcam agar menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung.
"Tidaklah (tidak ada penutupan). Kita sudah arahkan semua agar penetapan protokol kesehatan bagi pengunjung. Jangan sampai jadi klaster baru (COVID-19). Jam 5 tutup," ujar Bupati Ngawi yang akrab disapa Kanang.
Dikatakan, Forkopimcam telah membuat penyekatan di pintu masuk ke lokasi. Para pengunjung harus menjalani tes suhu tubuh dan wajib bermasker. "Semua gang kita suruh tutup dan demi kesehatan juga, cek suhu badan, wajib pakai masker, jaga jarak diatur per 10 orang saja langsung balik bergantian," imbuh Kanang.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan, rumah Giman yang ada di Dusun/Desa Mengger, Kecamatan Karanganyar bisa menjadi destinasi wisata. "Ya bisa aja wisata rumah unik jadinya. Nanti sharing-nya seperti apa, bisa saja untuk wisata. Bisa asal ndak ada syiriknya," lanjutnya.
Oleh Giman, rumah itu digeser 60 sentimeter ke depan dan dinaikkan sekitar 1,3 meter dari pondasi lama. Aksi tersebut dinilai mengingatkan pada dongeng Roro Jonggrang. (hen)
Editor : Redaksi