KLIKJATIM.Com | Surabaya--Pemprov Jatim menyatakan bahwa bantuan dua unit mobil lab PCR adalah ditujukan pada Pemprov Jatim, bukan Kota Surabaya. Hal ini sebagai jawaban atas pernyataan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang mengatakan bahwa seharusnya mobil itu adalah bantuan untuk Pemkot Surabaya.
Ketua Rumpun Logistik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Suban Wahyudiono menjelaskan kronologis dari bantuan tersebut berawal dari Gugus Tugas Provinsi Jatim bersurat pada 11 Mei 2020 ke Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat.
“Permohonan itu merupakan permohonan dukungan percepatan penegakan diaknosis covid-19, permohonan mesin PCR sebanyak 15 unit. Disamping surat perohonan itu, pada malam hari ibu gubernur telpon kepala BNPB untuk segera ada bantuan mobil PCR,” tandasnya.
[irp]
Suban juga mengaku bahwa dia juga menghubungi Doni Monardo dan diarahkan untuk berkomunikasi pada Deputi I kedaruratan. “Perbincangan saya pada tangan 27 Mei, malamnya sudah dirikim satu unit yang isinya dua mesin PCR. kedatangan mobil unit PCR ini kita terima di RS lapangan di jalan Indrapura Surabaya,” kata Suban.
Suban kembali menceritakan bahwa mobil unit yang pertama ini sudah beroprasi pada 27 Mei di rumah sakit Unair mengerjakan 200 sampel. Kemudian sore harinya di asrama haji mengerjakan 100 totalnya 300 sampel. Tanggal 28 mobil ini diarahkan di Sidoarjo dan kabupaten Lamongan karena di Sidoarjo banyak yang harus di lab .
“Saya sampaikan ini saya jelaskan kronologis bantuan BNPB mobil PCR ini kuntuk, Jawa Timur. Mobil lap ini tidak haya untuk Surbaya, tapi spesifik menyebutkan kota lain Sidoarjo dan Lumajang. Dalam pertembangannya Tulungagung juga membutuhkan bantuan, karena di Tulungagung PDPnya tertinggi kedua di Jatim,” ungkapnya.
Ketua Gugus Tugas Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi menambahkan terkait polemik mobil PCR. hal tersebut terjadi karena adanya kesalahpahaman.
"Kita sudah rundingkan semuanya waktu malam, mobil ini mau dikirim ke mana. Ternyata identifikasi di Sidoarjo sudah menunggu lama sehingga kita kirimkan ke Sidoarjo seharian di sana, hari kedua mobil sudah ada dua standby di rumah sakit darurat, sebelumnya sore kami sudah berkoordinasi, diskusi banyak sekali yang minta. Kemudian Tulungagung dan Lamongan juga banyak," katanya.
Joni mengatakan, Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Febria Rachmanita saat itu juga menegaskan stafnya untuk menyampaikan apakah ada jadwal di Surabaya untuk tes swab. Namun hal itu tak disampaikan sehingga membuat Mobil PCR di kirim ke Lamongan dan Tulungagung.
"Bu Feny menugaskan staf-nya Bu Deny kalau ndak salah, tapi Bu Deny tidak menyampaikan hari ini acaranya Surabaya apa, sehingga mobil kita kirim ke Lamongan dan Tulungagung. Ternyata pagi beliau telepon, 'saya minta mobilnya di Surabaya'," kata Joni.
Karena terlambat mengabarkan, akhirnya dia meminta kepada Pemkot Surabaya untuk menggunakan Mobil PCR tersebut Sabtu (30/5/2020). Ia mengaku saat membicarakan hal tersebut juga dengan memakai nada yang datar tidak dengan emosi.
"Saya sudah bilang besok saja, karena sudah ada di sana, sudah janjian. Saya ngomongnya datar-datar saja," ucapnya.
Namun, akibat kejadian ini, Wali Kota Risma emosi hingga mengucapkan deklarasi untuk 'perang'. Sementara itu, Joni mengatakan sudah berkoordinasi dengan staf yang ditugaskan beserta pihak kepolisian untuk besoknya mobil PCR dipakai di Surabaya untuk melakukan swab.
"Tadi sudah koordinasi dengan Bu Deny, Pak Kabag Ops, besok dua-duanya direncanakan di Surabaya, di RS Soewandhi 100, RS Husada Utama 100 dan kampung tangguh. Satu mobil tapi belum pulang di Lamongan," jelasnya.
[irp]
Sebelumnya, di hadapan awak media, Wali Kota Risma nampak tak kuasa menahan emosinya saat mengontak BNPB melalui ponselnya di halaman Balai Kota Surabaya pada Jumat (29/5/2020).
"Enggak bisa kerja! Siapa yang enggak bisa kerja? Kalau ngawur nyerobot itu, siapa yang enggak bisa kerja," ujar Risma saat berbicara melalui telepon genggamnya.
Dalam percakapan emosional tersebut, Risma berulang-ulang menyebut nama Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim Joni Wahyuhadi.
"Ya... Lha iya gimana saya bilang gitu, Dokter Joni lagi... Dokter Joni lagi. Dia itu orang mana, pak? Saya bukan itu, saya karena minta, pak. Boleh dicek ke Pak Pramono, boleh ditanya ke Mbak Puan," sambungnya saat berbicara melalui telepon genggamnya. (hen)
Editor : Redaksi