klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Festival Sound Horeg di Menganti Tuai Keluhan Warga, Disorot soal Kebisingan hingga Iuran

avatar Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Sampah memenuhi badan jalan Menganti usai parade spund horeg
Sampah memenuhi badan jalan Menganti usai parade spund horeg

KLIKJATIM.Com | Gresik – Kegiatan Sedekah Bumi yang menghadirkan puluhan truk sound horeg di wilayah Menganti, Kabupaten Gresik, menuai keluhan dari sejumlah warga. Selain persoalan kebisingan yang berlangsung hingga dini hari, besaran iuran yang disebut mencapai Rp 1,5 juta per kepala keluarga (KK) juga menjadi sorotan.

Keluhan tersebut ramai disampaikan warganet melalui media sosial. Sejumlah warga mempertanyakan pelaksanaan kegiatan yang dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama karena suara sound horeg disebut terdengar hingga kawasan yang cukup jauh dari lokasi acara.

Akun @fien_melati menyayangkan apabila warga harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk kegiatan tersebut. Menurutnya, uang sebesar itu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"1,5 juta in this economy buat makan sekeluarga lebih penting. Kenapa buat bayarin sound horeg," tulisnya.

Keluhan serupa disampaikan akun @devirananda. Ia mengaku sempat mendengarkan siaran Radio Suara Surabaya yang menghadirkan perwakilan panitia atau perangkat desa. Namun, ia menilai jawaban yang diberikan belum menjawab persoalan secara tegas.

"Barusan banget di perjalanan dengar SS, pas banget telepon bagian panitia acara/perangkat desanya. Halah pertanyaannya normatif aja, dan jawabannya pun cuma 'akan kami musyawarahkan lagi', akan kami jadikan evaluasi. Nggak greget blas, harusnya dicecar aja langsung itu," tulisnya.

Persoalan kebisingan juga menjadi perhatian warga. Akun @adindarq menyebut lokasi kegiatan tidak jauh dari Rumah Sakit Eka Husada. Ia mengeluhkan suara sound horeg yang berlangsung hingga dini hari, bahkan disebut kembali dinyalakan setelah waktu subuh.

"Acaranya ini juga dekat rumah sakit Eka Husada. Bayangin sampai jam 2, terus habis subuh dimulai lagi nyalain horegnya. Ya Allah zalim banget ini," tulisnya.

Dampak suara sound horeg bahkan disebut menjangkau kawasan lain. Akun @afifimutiarani mengaku suara dentuman musik terdengar hingga Lakarsantri, bahkan disebut masih terdengar oleh warga di kawasan Citraland.

"Ya Allah, zalim tenan yo kepala desane. Duit semunu iku akeh lo yo. Ojok ngadi-ngadi sampean. Acara ne sampean iku lo yo ngrugikno wong adoh. Wong krungu kroso getere sampe Lakarsantri. Onok sing ngomong sampe Citraland yo sik krungu jedag-jeduge," tulisnya.

Meski demikian, tidak semua warga mengaku mengalami penarikan iuran. Akun @safitriam_2 yang tinggal di sebuah perumahan sekitar lima menit dari titik awal kegiatan mengatakan tidak ada pungutan dana di lingkungannya.

Ia menilai kegiatan tersebut juga menjadi ajang adu gengsi antardesa. Bahkan, ia menyebut terdapat kepala desa yang mendukung kegiatan tersebut, termasuk dugaan keterkaitan kepemilikan vendor sound dengan keluarga kepala desa.

"Aku tinggal di perum yang jaraknya sekitar 5 menit dari start, nggak ada tarikan dana. Acara ini jadi ajang adu gengsi antar desa sebenarnya. Dan beberapa kepala desa memang mendukung, bahkan ada yang vendor sound-nya dimiliki oleh keluarga kepala desanya," tulisnya.

Ia juga menyampaikan dugaan bahwa dukungan pemerintah desa terhadap kegiatan semacam itu berkaitan dengan dukungan warga dalam pemilihan kepala desa. Namun, pernyataan tersebut merupakan pendapat pribadi yang belum terverifikasi.

Sementara itu, akun @afifah_arf yang mengaku tinggal di kawasan perumahan Menganti juga menyebut tidak mengalami penarikan iuran. Meski demikian, ia pernah mendengar adanya pungutan untuk kegiatan serupa di lingkungan lain.

"Aku di Menganti, tapi aku tinggal di perumahan alhamdulillah nggak ditarik iuran. Tapi pernah dengar memang tiap KK ditarik iuran kalau ada acara kayak gitu, tapi orang-orang yang tinggalnya di luar perumahan mungkin ya," tulisnya.

Diketahui, kegiatan Sedekah Bumi tersebut menghadirkan sekitar 25 truk sound horeg. Acara yang semula dijadwalkan berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 23.00 WIB itu disebut baru benar-benar berakhir sekitar pukul 04.00 WIB.

Kapolsek Menganti AKP Arif Rahman membenarkan bahwa pelaksanaan kegiatan berlangsung melewati batas waktu yang telah ditentukan.

Saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Minggu (1/11/2026), Arif menjelaskan keterlambatan terjadi akibat sejumlah kendala teknis di lapangan. Di antaranya kabel yang menghalangi kendaraan serta kondisi tanah amblas di area akhir kegiatan yang menyebabkan salah satu truk tidak dapat bergerak.

“Cuma pada saat pelaksanaannya banyak faktor X yang menghambat dari jalannya truk tersebut, antara lain kabel yang berada di atas. Selain itu juga ada titik di mana pada saat kendaraan itu memasuki finish tanahnya amblas sehingga mobil stuck tidak bisa bergerak,” jelas Arif.

Selain kendala teknis, terdapat pengemudi truk yang disebut tidak mengikuti arahan petugas sehingga turut menghambat kelancaran kegiatan.

Arif mengungkapkan, pihak panitia meminta kegiatan tetap diselesaikan meskipun telah melewati pukul 23.00 WIB. Alasannya, kendaraan yang digunakan sudah terlanjur dibayar.

“Betul, dari pihak panitia menyampaikan kepada kami karena terlanjur membayar kendaraan yang dimaksud, sehingga dari pihak panitia mendesak kami untuk menyelesaikan kegiatan yang dimaksud,” katanya.

Meski demikian, polisi meminta kendaraan yang masih berada di jalan raya setelah batas waktu tersebut untuk mematikan musik dan hanya melanjutkan perjalanan menuju lokasi akhir.

“Untuk kendaraan yang masih berada di jalan raya, untuk dihentikan musiknya, hanya untuk jalan saja,” jelasnya.

Arif menambahkan, petugas bahkan sempat bersitegang dengan salah satu pihak yang tidak bersedia mengikuti arahan untuk melanjutkan perjalanan.

Terkait sampah yang tertinggal setelah kegiatan, ia menegaskan bahwa tanggung jawab kebersihan, keamanan, dan ketertiban selama acara berlangsung berada di tangan panitia.

“Keamanan, ketertiban, dan kebersihan itu merupakan menjadi bagian dan tanggung jawab daripada panitia,” tegasnya.

Panitia Akui Jumlah Penonton di Luar Perkiraan

Sementara itu, Habibi Arsid, Sekretaris Panitia Kirab Budaya sekaligus Kepala Urusan Perencanaan Desa Menganti, kepada salahsatu radio di Surabaya mengakui jumlah penonton yang memadati kegiatan tersebut membeludak di luar perkiraan.

Kondisi tersebut membuat petugas kebersihan kewalahan. Selain itu, kepadatan penonton juga menyebabkan armada truk mengalami kesulitan melintas di sepanjang rute pawai.

Habibi mengatakan, pihak panitia sebenarnya telah melakukan sejumlah antisipasi. Namun, jumlah penonton yang datang ternyata tetap melebihi perkiraan.

“Memang di luar dugaan kami, tapi sebenarnya sudah kami antisipasi,” ujarnya kepada Radio Suara Surabaya, Minggu (1/11/2026).

Ia menjelaskan, petugas kebersihan telah bekerja sejak pukul 02.30 WIB dini hari untuk membersihkan sepanjang rute pawai. Sekitar pukul 05.30 WIB, sampah-sampah yang berserakan sudah mulai dikumpulkan di sisi kanan dan kiri jalan.

Meski demikian, persoalan kebisingan, keterlambatan kegiatan, sampah, hingga dugaan besaran iuran masih menjadi perhatian masyarakat. Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pun dinilai penting agar penyelenggaraan acara serupa ke depan tidak mengorbankan kenyamanan dan kepentingan warga sekitar.

Editor :