KLIKJATIM.Com | Jember – Kasus kebakaran di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan sepanjang September 2026. UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Satpol PP Kabupaten Jember mencatat sebanyak 71 kejadian kebakaran hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Angka tersebut menjadi rekor bulanan tertinggi sepanjang tahun 2026. Bahkan, jumlah insiden pada September saja sudah hampir menyamai 67 persen dari total kasus kebakaran yang ditangani Damkar Jember sepanjang tahun 2025 lalu, yakni sebanyak 106 kejadian.
Humas dan Call Center UPT Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Jember, Slamet Sugiyanto, menjelaskan bahwa kenaikan grafik kebakaran ini tidak terjadi secara mendadak. Tren peningkatannya telah terdeteksi sejak pertengahan tahun dan semakin memuncak seiring memasukinya puncak musim kemarau dengan kondisi lingkungan yang sangat kering.
“September kemarin luar biasa. Bisa dikatakan angka kebakaran cukup tinggi di Jember, karena dalam satu bulan mencapai 71 kasus. Ini menjadi rekor tertinggi sepanjang tahun ini,” kata Slamet saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Jember, Jumat (2/10) petang.
Berdasarkan data operasional Damkar, jumlah kejadian kebakaran pada Januari tercatat 10 kasus, Februari 9 kasus, Maret 14 kasus, April 13 kasus, dan Mei 13 kasus. Memasuki Juni, angka lonjakan mulai terlihat dengan 21 kasus, lalu naik menjadi 29 kasus pada Juli, dan 39 kasus pada Agustus.
Puncaknya terjadi pada September dengan total 71 kejadian. Jika dikumulatifkan sejak Januari hingga September 2026, petugas telah menangani 219 kejadian kebakaran dalam sembilan bulan pertama. Angka kumulatif ini melonjak lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan total penanganan sepanjang tahun 2025.
Slamet mengungkapkan bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi pemicu utama yang memperbesar risiko perambatan api. Vegetasi kering, dedaunan, ranting, rumpun bambu, hingga limbah pertanian menjadi sangat mudah terbakar dan cepat meluas saat dihembus angin kencang.
Meski demikian, pihak petugas mengidentifikasi bahwa pemicu utama di lapangan dominan berasal dari faktor manusia, khususnya kebiasaan membakar sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan.
“Awalnya kebanyakan dari bakar sampah. Setelah membakar, orangnya kemudian pergi dan meninggalkan api. Karena sekarang cuacanya panas dan anginnya cukup kencang, api bisa semakin besar dan merembet,” ujarnya.
Sekitar 85 persen kejadian kebakaran pada September didominasi oleh lahan terbuka yang ditumbuhi bambu serta kawasan gumuk. Adapun dugaan pembakaran sengaja untuk pembukaan lahan diperkirakan hanya sekitar dua persen. Sisanya sebagian besar dipicu oleh kelalaian warga dalam memantau sisa api pembakaran.
Karakteristik api yang cepat membesar ini terlihat dari beberapa kejadian, seperti kebakaran lahan di Sempusari pada 24 September lalu yang menghanguskan sekitar 250 meter persegi ilalang akibat titik awal api pembakaran sampah. Insiden serupa terjadi di Antirogo pada awal September, di mana lahan kering seluas 2.000 meter persegi melahap rumpun bambu dan ranting kering.
Memasuki awal Oktober, potensi ancaman kebakaran dilaporkan belum surut. Dalam dua hari pertama Oktober, pihak Damkar Jember tercatat telah merespons lima laporan kejadian kebakaran.
“Baru dua hari memasuki Oktober, sudah ada lima kejadian. Karena itu, kami terus mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati. Jangan sampai kebiasaan membakar sampah justru menimbulkan kebakaran yang mengancam lingkungan dan permukiman,” kata Slamet.
Guna menekan angka kejadian, UPT Damkar bersama jajaran TNI dan Kepolisian terus memperkuat koordinasi serta edukasi pencegahan ke masyarakat. Warga diimbau untuk tidak meninggalkan lokasi pembakaran sebelum api dipastikan padam sepenuhnya.
“Kalau memang harus membakar, pastikan tetap diawasi sampai benar-benar padam. Jangan menyepelekan api kecil, karena ketika sudah membesar, penanganannya akan jauh lebih sulit dan bisa merembet ke lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Editor : Fatih